BPBD Jatim Cepat Perbaiki Peralatan Early Warning System Pasca Banjir BPJS Ketenagakerjaan Dorong Seluruh Mitra Ojol Manfaatkan Potongan Iuran DVI Polda Sulut Identifikasi Tiga Korban Kebakaran di Panti Wreda Masalah Mata, Duet Marwan/Aisyah Dipastikan Absen dari Indonesia Masters 2026 Apkasindo: Perkuat Sektor Hulu Jadi Kunci Percepatan Hilirisasi Sawit BBKSDA Jawa Timur dan Mahasiswa Lakukan Pengamatan Burung Migrasi di Tulungagung

Humaniora

Tamiang: Jejak Awal Peradaban Melayu Terkubur Lumpur Setelah Banjir Bandang

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Tamiang Terkapar oleh Lumpur

Lebih dari sebulan lalu, sebuah banjir bandang menghantam Tamiang. Seluruh kawasan dilapisi air dan lumpur; permukiman, lahan, dan jalan-jalan tampak tenggelam. Puing-puing tersebar, menandai besarnya hantaman yang dialami daerah itu.

Warisan Sejarah yang Tertutup

Tamiang dikenal dalam narasi lokal sebagai bagian penting dari sejarah awal peradaban Melayu. Banjir dan aliran lumpur yang mengikuti peristiwa tersebut membuat lapisan sejarah yang selama ini terlihat atau tersisa di permukaan kini tertutup dan tersamarkan oleh material banjir.

Kesunyian situs-situs lama menjadi lebih nyata ketika tanah dan puing menutupi struktur atau jejak yang mungkin ada di permukaan. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kondisi fisik kawasan, tetapi juga menyulitkan upaya untuk melihat kembali atau menelusuri jejak-jejak masa lalu tanpa pembersihan dan dokumentasi yang memadai.

Dampak Sosial dan Budaya

Banjir bandang yang menenggelamkan wilayah Tamiang membawa dampak yang luas. Selain kerusakan fisik pada infrastruktur dan bangunan, peristiwa itu juga berimplikasi pada cara komunitas setempat berinteraksi dengan situs-situs bersejarah. Material lumpur dan puing yang menutupi permukaan menyulitkan akses serta pengamatan terhadap elemen-elemen warisan budaya yang sebelumnya dapat dilihat atau dipelajari.

Peristiwa semacam ini menegaskan betapa rentannya warisan budaya terhadap bencana alam. Meski satu lokasi memiliki nilai historis, bencana dapat dengan cepat mengubah lanskapnya sehingga jejak masa lalu menjadi kurang tampak atau bahkan hilang dari pandangan sehari-hari.

Arah Pemikiran ke Depan

Menghadapi kondisi terbenamnya beberapa kawasan bersejarah, perhatian terhadap dokumentasi, pemetaan, dan kajian arkeologis menjadi suatu pertimbangan penting. Upaya untuk memahami dan menyelamatkan warisan budaya memerlukan data awal yang baik, tetapi peristiwa alam seperti banjir bandang di Tamiang memperlihatkan tantangan nyata terhadap pelestarian tersebut.

Gambar yang beredar memperlihatkan pemandangan Tamiang yang masih diliputi lumpur dan puing, simbol betapa mendesaknya pemahaman terhadap dampak bencana pada situs-situs bersejarah. Keadaan ini mengundang refleksi tentang hubungan antara lingkungan, bencana alam, dan kelangsungan warisan budaya di wilayah yang memiliki akar sejarah panjang.

Catatan: Foto terkait memperlihatkan kondisi wilayah setelah banjir bandang, menegaskan kondisi lapangan yang dipenuhi lumpur dan puing.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mendukbangga: Program Makan Bergizi Berperan Turunkan Stunting di Jawa Barat

12 Januari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Dosen Sekolah Vokasi Undip Anggun Puspitarini Siswanto Raih Penghargaan dari Kampus di Jerman

12 Januari 2026 - 09:30 WIB

ANTARA News

Menteri PPPA Sampaikan Dukacita atas Meninggalnya Ibu dan Balita di Kebumen

11 Januari 2026 - 14:00 WIB

ANTARA News

Makam Kerajaan Ungkap Koleksi Satwa Langka Tertua di China

11 Januari 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Situbondo Bersiap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35: Serangkaian Persiapan Dilakukan

11 Januari 2026 - 12:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora