LDII Sumsel Luncurkan Program Pembersihan 326 Tempat Ibadah CENTCOM Tahan Komentar soal Dugaan Keterlibatan Pasukan dalam Serangan di Iran Polresta Malang Minta Warga Segera Lapor Jika Menemukan Dugaan Penimbunan Pangan Satpol PP Jaksel Akan Bongkar Lapangan Padel Tak Berizin di Cilandak Gubernur: Beberapa Program Pusat Sudah Berjalan di Rejang Lebong IRGC Konfirmasi Peluncuran Gelombang Pertama Serangan Roket ke Israel

Humaniora

Akademisi UGM Sarankan Program Makan Bergizi Gratis Dijalankan 1–2 Hari per Minggu, Sisanya Bawa Bekal

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Jogja — Digna Niken Purwaningrum, akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengusulkan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah diselenggarakan tidak setiap hari, melainkan hanya 1–2 hari dalam seminggu. Saran ini ditujukan sebagai alternatif pelaksanaan program agar ada kombinasi antara layanan sekolah dan peran keluarga dalam penyediaan makanan bagi anak.

Inti Rekomendasi

Saran Digna menekankan pelaksanaan MBG dalam frekuensi terbatas di sekolah. Dengan skema seperti itu, anak-anak menerima makanan bergizi dari sekolah pada sejumlah hari tertentu, sementara pada hari-hari lain mereka diharapkan membawa bekal dari rumah.

Membuka Diskusi Pelaksanaan MBG

Rekomendasi ini memicu perbincangan mengenai model pelaksanaan program makan bergizi untuk peserta didik. Pilihan mengombinasikan layanan sekolah dan bekal rumah membuka ruang bagi kajian terkait bagaimana program diselenggarakan secara praktis, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan sekolah serta keluarga.

Aspek yang Perlu Dipertimbangkan

Saran tentang pemberian MBG pada satu atau dua hari per minggu juga menyoroti sejumlah aspek yang sering menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan program makan di sekolah. Di antaranya adalah bagaimana memastikan nutrisi yang diberikan sesuai dengan standar gizi, bagaimana peran keluarga dalam menyiapkan bekal, serta bagaimana menjaga kesinambungan program agar dapat memberikan manfaat bagi anak-anak.

Peran Sekolah dan Keluarga

Model kombinasi antara layanan MBG yang diselenggarakan sekolah dengan bekal yang dibawa dari rumah menempatkan tanggung jawab pada kedua pihak: sekolah sebagai penyelenggara hari-hari tertentu, dan keluarga sebagai penyedia makanan pada hari lainnya. Pendekatan semacam ini berpotensi menguatkan keterlibatan orang tua dalam pola makan anak sekaligus menjaga akses terhadap makanan bergizi yang disediakan oleh sekolah.

Pentingnya Kajian Lebih Lanjut

Usulan untuk membatasi hari pelaksanaan MBG ke 1–2 hari mendorong perlunya kajian lebih mendalam mengenai efektivitas skema tersebut. Evaluasi akan membantu memahami implikasi bagi pemenuhan kebutuhan gizi anak, dinamika keluarga, serta kelangsungan program di berbagai konteks sekolah.

Gambaran yang diajukan oleh Digna Niken Purwaningrum membuka ruang bagi dialog antara pembuat kebijakan, penyelenggara pendidikan, tenaga kesehatan, dan keluarga. Diskusi yang komprehensif diperlukan agar setiap kebijakan terkait program makan di sekolah dapat dirancang dengan mempertimbangkan aspek nutrisi, operasional, dan keberlanjutan.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

LDII Sumsel Luncurkan Program Pembersihan 326 Tempat Ibadah

28 Februari 2026 - 20:30 WIB

ANTARA News

Polres Temanggung Ajak Murid TK Kunjungi Panti, Tekankan Pentingnya Empati Sejak Dini

27 Februari 2026 - 16:00 WIB

ANTARA News

Cahaya 1.008 Dipa dan Irama Damaru Mewarnai Malam di Candi Prambanan

27 Februari 2026 - 11:00 WIB

ANTARA News

Kemendikdasmen dan BPS Bersinergi Perkuat Ketepatan Data Pendidikan

27 Februari 2026 - 08:30 WIB

ANTARA News

Kemensos Perkuat Manajemen Guru Sekolah Rakyat Lewat Pelatihan

26 Februari 2026 - 19:30 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora