Presiden Ajak Dialog Akademisi Soshum di Istana
Presiden Prabowo Subianto mengundang 1.200 tokoh akademik—termasuk guru besar, dekan, dan rektor yang berkecimpung di bidang sosial dan humaniora—to sebuah pertemuan yang akan digelar di Istana pada hari Kamis. Undangan ini ditujukan kepada para pemangku kepentingan di lingkungan pendidikan tinggi yang berkaitan dengan ilmu sosial dan humaniora (soshum).
Peserta yang diundang
Jumlah peserta yang disebut mencapai 1.200 orang, terdiri dari berbagai jabatan akademik, mulai dari guru besar hingga pimpinan fakultas dan universitas yang fokus pada kajian sosial-humaniora. Kehadiran beragam pimpinan akademik ini menunjukkan skala pertemuan yang direncanakan cukup besar.
Lokasi dan waktu
Dialog akan berlangsung di Istana, tempat yang kerap dipilih untuk pertemuan tingkat tinggi antara pemerintah dan kelompok profesional atau ahli. Hari pelaksanaan disebutkan pada Kamis, mengikuti pengumuman undangan.
Makna pertemuan
Pemilihan kalangan akademik bidang sosial-humaniora sebagai peserta utama menandakan pentingnya masukan dari disiplin ilmu yang berkaitan dengan masyarakat, kebudayaan, hukum, politik, dan isu-isu sosial lainnya. Dialog semacam ini umumnya menjadi forum bagi pertukaran pandangan antara pemerintahan dan komunitas akademik, serta mendukung proses komunikasi kebijakan dengan pengetahuan ilmiah.
Adanya pertemuan di tingkat nasional dengan sejumlah besar akademisi juga menggarisbawahi peranan perguruan tinggi dan para pemimpin akademik dalam diskursus publik dan tata kebijakan. Forum seperti ini memberikan kesempatan bagi suara akademik untuk disampaikan secara langsung kepada pejabat negara di lingkungan istana.
Harapan dan perhatian
Walaupun rincian agenda dialog belum dipaparkan secara terbuka dalam pengumuman awal, acara yang melibatkan guru besar, dekan, dan rektor biasanya mencakup paparan, diskusi, dan pemaparan pandangan dari berbagai universitas serta institusi pendidikan tinggi. Bentuk dialog dapat bervariasi, mulai dari sesi pleno hingga sesi tanya jawab.
Bagi pihak akademik, partisipasi dalam pertemuan semacam ini sering dilihat sebagai peluang untuk mengemukakan perspektif ilmiah, menawarkan kajian kritis, dan menjalin komunikasi langsung dengan perwakilan pemerintahan. Sementara itu, bagi pemerintah pertemuan ini dapat menjadi saluran menerima masukan dari komunitas akademik yang memiliki kapabilitas penelitian dan analisis.
Penutup
Rencananya pertemuan yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini menjadi salah satu momentum penting bagi interaksi antara dunia politik dan akademik di Indonesia. Kehadiran ratusan akademisi bidang sosial-humaniora di Istana pada Kamis diharapkan memberikan ruang bagi pertukaran gagasan antara pembuat kebijakan dan para ahli yang memahami berbagai dimensi sosial dan kemanusiaan.
Foto: ANTARA News






