Sulawesi Tenggara Terima Alokasi Tambahan 10.000 Hektar Cetak Sawah Baru Festival Sepak Bola Rakyat di Palu: Coaching Clinic untuk SSB Fasilitas Air Minum Siap Saji Akan Hadir di Jalur Sudirman-Thamrin Peran Bahasa dalam Menyatukan Budaya di Purwokerto Sabar dan Reza Bawa Indonesia Samakan Skor Melawan Thailand PT PAL dan IKI Bangun Kapal Pinisi untuk Penguatan Sektor Maritim Sulsel

Nusantara

Pengembangan Wisata Sejarah Harus Sejalan dengan Upaya Konservasi, Tegaskan Utusan Khusus Presiden

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Pengembangan Wisata Sejarah Perlu Dibarengi Konservasi

Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, menegaskan bahwa upaya pengembangan destinasi wisata sejarah tidak boleh terpisah dari kegiatan konservasi. Menurutnya, peningkatan kunjungan dan promosi harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak merusak nilai sejarah dan kelestarian situs.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan wisata dan perlindungan warisan. Pengembangan fasilitas, pemasaran, dan peningkatan aksesibilitas perlu diselaraskan dengan langkah-langkah yang menjaga kondisi fisik, nilai kebudayaan, dan konteks historis tempat tersebut.

Aspek yang Perlu Diperhatikan

Beberapa aspek yang harus menjadi perhatian dalam mengembangkan wisata sejarah antara lain perencanaan yang matang, standar konservasi yang konsisten, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Perencanaan yang menyeluruh membantu mengidentifikasi potensi tekanan terhadap situs dan merumuskan strategi mitigasi yang tepat.

Keterlibatan komunitas lokal, pengelola situs, akademisi, dan lembaga konservasi menjadi kunci agar pengembangan tidak mengabaikan nilai-nilai lokal dan ilmu pengetahuan yang relevan. Partisipasi masyarakat juga penting untuk memastikan manfaat ekonomi bisa dirasakan secara adil dan berkelanjutan.

Pengelolaan Pengunjung dan Edukasi

Pentingnya pengelolaan arus pengunjung tidak bisa diabaikan. Pengaturan kapasitas, jalur kunjungan, serta panduan perilaku pengunjung dapat meminimalkan dampak fisik terhadap situs-situs sensitif. Selain itu, program edukasi bagi wisatawan membantu meningkatkan apresiasi dan tanggung jawab terhadap pelestarian warisan budaya.

Penyediaan informasi yang jelas tentang nilai sejarah, aturan kunjungan, dan alasan perlindungan dapat mengubah pola kunjungan menjadi lebih berkelas dan lebih aman bagi kelangsungan situs.

Kolaborasi Lintas Sektor

Mewujudkan pengembangan wisata sejarah yang berkelanjutan memerlukan sinergi antarinstansi, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dinas pariwisata, hingga badan pelestarian kebudayaan. Pendekatan lintas sektor memungkinkan penyelarasan kebijakan, pendanaan, serta pengawasan yang efektif.

Di samping itu, kolaborasi dengan sektor swasta dan lembaga nonpemerintah dapat memberi dukungan teknis dan sumber daya yang diperlukan untuk program konservasi dan pengelolaan berkelanjutan.

Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang

Pada intinya, pengembangan wisata sejarah idealnya menjadi sarana untuk melestarikan, bukan mengikis, warisan budaya. Dengan mengintegrasikan kebijakan pariwisata dan konservasi, nilai historis tempat-tempat tersebut dapat dipertahankan sekaligus membuka peluang ekonomi yang bijak bagi masyarakat setempat.

Pesan yang disampaikan oleh Zita Anjani mengingatkan bahwa tujuan pariwisata tidak hanya soal menarik pengunjung, melainkan juga memastikan keberlanjutan warisan budaya untuk dinikmati oleh generasi mendatang.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sulawesi Tenggara Terima Alokasi Tambahan 10.000 Hektar Cetak Sawah Baru

27 April 2026 - 18:03 WIB

ANTARA News

Persiapan Optimal Layanan Haji di Makkah oleh Petugas PPIH

24 April 2026 - 19:58 WIB

ANTARA News

Pemkot Jaktim Tingkatkan Pembinaan untuk Pertanian Melon Inthanon

24 April 2026 - 13:26 WIB

ANTARA News

Satgas PRR Percepat Pemulihan Sumatera Lewat Sinergi Antar Daerah

25 Maret 2026 - 19:00 WIB

ANTARA News

Arus Balik H+3 Idul Fitri di Pelabuhan Ketapang: Ramai Namun Lancar

24 Maret 2026 - 12:00 WIB

ANTARA News
Trending di Nusantara