BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Humaniora

Naluri Berdagang Bantu Pesmi Mengatasi Stres Pascabencana di Tanah Minangkabau

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Naluri berdagang sebagai penopang psikologis

Hampir tiga bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Tanah Minangkabau, duka dan kenangan masih menghantui banyak korban. Di tengah suasana pemulihan yang panjang, seorang warga bernama Pesmi menemukan cara untuk menghadapi tekanan pascabencana dengan kembali menjalankan naluri berdagangnya.

Aktivitas ekonomi sebagai mekanisme koping

Bagi sebagian penyintas, rutinitas dan aktivitas produktif mampu memberi struktur baru pada hari-hari yang dilanda ketidakpastian. Dalam kasus Pesmi, kegiatan berdagang kembali menjadi sarana untuk meredakan kegelisahan, memberi rasa tujuan, dan membantu menata kembali kehidupan sehari-hari yang sempat terganggu.

Menjaga kesejahteraan mental lewat pekerjaan

Keterlibatan dalam pekerjaan, meskipun sederhana, seringkali berperan penting untuk kesehatan mental para penyintas. Kegiatan jual beli yang dijalankan Pesmi tidak hanya menyediakan penghasilan, tetapi juga menghadirkan interaksi sosial dan rasa kendali atas nasib sendiri—elemen yang krusial saat menghadapi trauma dan kehilangan.

Proses pemulihan yang bertahap

Pemulihan pascabencana tidak selalu berupa rehabilitasi fisik semata; aspek psikologis memerlukan perhatian dan waktu. Pendekatan yang menggabungkan dukungan sosial, rutinitas baru, dan kegiatan produktif dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali rasa aman. Aktivitas berdagang yang kembali dijalani Pesmi menggambarkan salah satu jalur pemulihan tersebut.

Peran komunitas dan upaya personal

Di komunitas yang terdampak, keberlangsungan interaksi dan saling membantu berkontribusi pada stabilisasi emosi warga. Sementara itu, inisiatif personal seperti memulai kembali usaha kecil atau aktivitas rutin dapat mempercepat adaptasi. Kisah Pesmi menyoroti bagaimana tindakan praktis sehari-hari bisa menjadi penopang dalam menghadapi kenangan pahit pascabencana.

Harapan dalam langkah-langkah kecil

Membangun kembali kehidupan setelah musibah biasanya terjadi melalui langkah-langkah kecil dan konsisten. Kesediaan untuk kembali aktif secara sosial dan ekonomi menjadi tanda adaptasi yang positif. Meski duka tetap ada, melakukan hal-hal yang memberi makna—seperti berdagang bagi Pesmi—membantu menyusun kembali rutinitas dan menumbuhkan harapan perlahan.

Kesimpulan
Kisah Pesmi menggambarkan satu sisi pemulihan pascabencana: naluri dan aktivitas produktif dapat berfungsi sebagai cara efektif mengurangi tekanan emosional dan memberi arah baru pada kehidupan. Hampir tiga bulan setelah peristiwa banjir bandang dan longsor di Tanah Minangkabau, proses penyembuhan terus berlangsung melalui upaya kolektif dan inisiatif individu.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Program Makan Bergizi Gratis Kini Menjangkau Lansia dan Penyandang Disabilitas

24 Maret 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Makna Hari Raya dalam Memperkuat Fungsi Keluarga

23 Maret 2026 - 19:00 WIB

ANTARA News

Lebaran dan Kewajiban untuk Bahagia: Antara Tradisi dan Harapan

23 Maret 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan untuk Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 1

22 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Dubes RI untuk Thailand Tekankan Persatuan dan Silaturahmi pada Perayaan Idul Fitri 1447 H

21 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora