Interaksi dengan Orang Toxic Dikaitkan dengan Percepatan Penuaan
Sebuah studi psikologi terbaru menemukan adanya hubungan antara berhubungan dengan orang yang bersikap toxic dan percepatan proses penuaan. Orang yang mengalami lingkungan sosial yang negatif cenderung menunjukkan tanda-tanda penuaan lebih cepat dibanding mereka yang terhindar dari pola hubungan seperti itu.
Apa yang dimaksud ‘orang toxic’? Istilah ini umumnya merujuk pada individu yang perilakunya menimbulkan beban emosional bagi orang lain, baik karena sikap yang manipulatif, merendahkan, atau menyebabkan stres berkepanjangan. Keberadaan orang seperti ini dalam lingkaran pergaulan atau keluarga dapat memberi dampak yang nyata pada kondisi psikologis dan fisik pihak yang berkaitan.
Penelitian yang dipublikasikan menyatakan adanya korelasi antara paparan terhadap hubungan bermasalah dan tanda-tanda penuaan. Meskipun studi tidak menyatakan bahwa semua orang yang berinteraksi dengan orang toxic pasti akan mengalami percepatan penuaan, hasilnya menunjukkan adanya peningkatan risiko bagi mereka yang terus-menerus berada dalam situasi tersebut.
Dampak pada Kesejahteraan
Para peneliti menyoroti bahwa tekanan emosional yang dihasilkan dari hubungan yang merugikan dapat memengaruhi kualitas hidup secara luas. Dampak ini dirasakan tidak hanya pada aspek mental—seperti peningkatan kecemasan atau kelelahan—tetapi juga pada kesejahteraan fisik. Studi menekankan pentingnya memperhatikan kualitas hubungan interpersonal sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang.
Kendati demikian, para penulis studi juga mengingatkan bahwa hasil penelitian menunjukkan kecenderungan umum dan bukan hukum mutlak. Setiap individu merespons tekanan sosial secara berbeda, sehingga efeknya bisa bervariasi tergantung pada kondisi pribadi dan konteks hubungan.
Langkah Praktis Menghadapi Hubungan Negatif
Berangkat dari temuan tersebut, penting bagi orang yang merasa dirugikan oleh hubungan toxic untuk mempertimbangkan langkah-langkah yang dapat mengurangi dampak negatif. Beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan antara lain memperjelas batasan dalam hubungan, mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional, dan, bila perlu, menjauhkan diri dari lingkungan yang terus-menerus menimbulkan tekanan.
Perubahan dalam pola hubungan tidak selalu mudah, apalagi jika hubungan itu terjadi dalam keluarga atau lingkungan kerja. Namun fokus pada perlindungan kesehatan emosional dan fisik menjadi alasan penting untuk menata ulang interaksi yang merugikan.
Penutup
Kesimpulan studi ini menggarisbawahi bahwa kualitas hubungan interpersonal memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar kenyamanan sehari-hari; hubungan yang merugikan dapat memengaruhi proses penuaan dan kesejahteraan. Mengidentifikasi dan menangani interaksi yang toksik menjadi salah satu langkah pencegahan untuk menjaga kualitas hidup lebih baik ke depan.
Foto: ANTARA News






