Sulawesi Tenggara Terima Alokasi Tambahan 10.000 Hektar Cetak Sawah Baru Festival Sepak Bola Rakyat di Palu: Coaching Clinic untuk SSB Fasilitas Air Minum Siap Saji Akan Hadir di Jalur Sudirman-Thamrin Peran Bahasa dalam Menyatukan Budaya di Purwokerto Sabar dan Reza Bawa Indonesia Samakan Skor Melawan Thailand PT PAL dan IKI Bangun Kapal Pinisi untuk Penguatan Sektor Maritim Sulsel

Lifestyle

Keberagaman Hidangan Berbuka: Menyambut Kemenangan Ramadhan Lewat Sepiring Makanan

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Keberagaman berbuka: satu makna, banyak sajian

Setiap negara memiliki cara tersendiri merayakan momen berbuka setelah seharian menahan lapar dan dahaga di bulan Ramadhan. Momen itu acap kali dirayakan melalui sebuah sepiring atau piring-piring makanan yang sarat makna: tidak hanya sebagai pengganti energi, melainkan juga cerminan tradisi, rasa kebersamaan, dan identitas kuliner setempat.

Unsur umum dalam hidangan Ramadhan

Walau ragam sajian berbeda-beda, ada beberapa unsur yang sering muncul dalam meja berbuka. Pertama, sajian pembuka yang ringan untuk mengawali makan setelah berbuka, diikuti oleh hidangan utama yang dapat mengenyangkan keluarga dan tamu. Kedua, kehadiran makanan manis atau minuman hangat sebagai penutup agar tubuh kembali nyaman setelah berpuasa.

Bahan lokal dan cita rasa menjadi penentu bentuk hidangan di tiap wilayah. Ketersediaan bahan baku, tradisi pertanian, dan preferensi rasa lokal memengaruhi jenis olahan yang jadi favorit saat berbuka. Dengan demikian, satu konsep dasar—makan bersama saat berbuka—menghasilkan beragam ekspresi kuliner yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain.

Suasana perayaan dan kebersamaan

Lebih dari sekadar makanan, momen berbuka selama Ramadhan juga tentang suasana. Meja penuh piring yang dibagikan bersama keluarga besar atau tetangga menegaskan fungsi sosial dari tradisi ini. Bagi banyak orang, berbuka adalah waktu berkumpul, bertukar cerita, dan mempererat hubungan antarsesama.

Di banyak komunitas, penyajian makanan berbuka juga dilakukan secara bergotong royong—dari menyiapkan masakan hingga mengundang tetangga. Hal ini memperkuat nuansa kolektif yang sering lekat dengan bulan Ramadhan.

Peran pasar dan bazar Ramadhan

Bagi sebagian komunitas, bazar atau pasar khusus Ramadhan menjadi bagian penting dari pengalaman berbuka. Tempat-tempat ini menawarkan ragam sajian dalam ukuran yang lebih kecil dan seringkali menjadi titik pertemuan sosial. Kehadiran bazar membantu memperkenalkan variasi makanan dan memudahkan warga mendapatkan hidangan favorit untuk dibawa pulang atau disantap di lokasi.

Melestarikan tradisi melalui makanan

Hidangan khas Ramadhan juga berperan dalam melestarikan warisan kuliner suatu masyarakat. Resep turun-temurun dan cara penyajian yang khas menjadi medium bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya mereka. Melalui proses memasak bersama dan berbagi makanan, nilai-nilai tradisi dapat diteruskan tanpa mengurangi makna spiritual bulan suci.

Penutup

Secara keseluruhan, hidangan berbuka Ramadhan mencerminkan bagaimana satu tradisi religius dapat diwarnai oleh kekayaan budaya setempat. Sepiring makanan tidak hanya menghangatkan tubuh setelah berpuasa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, identitas, dan kontinuitas tradisi dalam komunitas yang berbeda-beda.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Rencanakan Perawatan Kulit Enam Bulan Sebelum Hari Pernikahan Anda

26 April 2026 - 10:05 WIB

ANTARA News

Dermatolog Ingatkan: Konsumsi Gula dan Garam Berlebih Bisa Picu Masalah Kulit

5 Maret 2026 - 16:30 WIB

ANTARA News

Bursa: Perpaduan Sejarah dan Alam yang Menenangkan di Anatolia

28 Februari 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Bergaul dengan Orang ‘Toxic’ Dapat Mempercepat Proses Penuaan, Kata Studi Psikologi

24 Februari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Kolak: Takjil Manis yang Selalu Menemani Buka Puasa di Ramadhan

22 Februari 2026 - 14:30 WIB

ANTARA News
Trending di Lifestyle