Cahaya dan Suara di Tengah Gerimis
Pemandangan malam di kawasan Candi Prambanan berubah menjadi sorotan hangat ketika ribuan cahaya dipa dinyalakan, sementara bunyi damaru mengisi udara. Meskipun hujan dengan intensitas sedang melanda hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, suasana prosesi tetap menawarkan kombinasi visual dan musikal yang kuat bagi pengunjung dan peziarah.
1.008 dipa menjadi titik fokus acara, menebar kilauan yang menyapu relief dan arsitektur candi. Barisan lampu-lampu tradisional itu menegaskan siluet candi—menciptakan kontras antara kegelapan malam yang lembap dan nyala-nyala hangat yang menempel pada dinding batu kuno.
Sementara itu, irama damaru menambah dimensi audial: dentingan dan denyut alat musik tersebut menyatu dengan suara hujan, membentuk latar yang bernuansa sakral. Suara damaru, walaupun sederhana secara instrumen, mengisi ruang terbuka Candi Prambanan dengan pola ritmis yang mengundang perhatian pendengarnya.
Suasana dan Respons Pengunjung
Gabungan cahaya dan bunyi menciptakan sensasi berbeda dibandingkan kunjungan biasa ke kompleks candi. Hujan yang turun tidak sepenuhnya memadamkan kegiatan; sebaliknya, ia menambah nuansa dramatis pada kilauan dipa. Embun dan uap dari permukaan basah memantulkan kilau lampu, memperkaya efek visual yang terlihat dari berbagai sudut candi.
Bagi pengunjung, malam itu menjadi kesempatan untuk menyaksikan aspek ritual dan estetika yang jarang ditemui. Lampu-lampu yang memenuhi pelataran candi turut menegaskan nilai estetika tradisi lampu dalam konteks kebudayaan setempat, sementara damaru memperkaya pengalaman multisensoris yang sulit dilupakan.
Makna Tradisi dalam Bingkai Candi
Kombinasi dipa dan damaru di lokasi bersejarah semacam Prambanan menegaskan hubungan antara praktik ritual dan warisan arsitektural. Nyala lampu-lampu kecil yang dipasang di sekitar bangunan candi menonjolkan detail-detail batuan yang biasanya tampak monoton di bawah cahaya siang, sehingga menampilkan sudut pandang baru bagi penikmat budaya.
Walau hujan menambah tantangan teknis bagi pelaksanaan, intensitas air yang turun tidak sepenuhnya mengganggu suasana. Elemen alam tersebut justru memperkaya impresi visual dan audial, menjadikan suasana malam lebih puitis dan meditatif bagi siapa pun yang hadir.
Penutup
Kegiatan yang menggabungkan ribuan lampu dengan musik tradisional seperti damaru di area candi memberikan pengalaman berbeda dari kunjungan sehari-hari. Perpaduan cahaya, suara, dan suasana alam yang basah menciptakan momen kebudayaan yang kuat, memperlihatkan bagaimana tradisi dapat hidup di tengah warisan sejarah bahkan saat cuaca tidak sepenuhnya bersahabat.
Foto: ANTARA News






