MUI Dorong Regulasi agar Zakat Dapat Berperan sebagai Pengurang Pajak Prabowo Dorong Penguatan Jati Diri Melalui Studi Artefak di Museum Nasional DJKI Tegaskan Keterbukaan LMKN Soal Royalti Tak Klaim Sudah Jelas Kemendikdasmen Berikan Tunjangan Khusus Rp6 Juta untuk Guru Terdampak Bencana Polda Riau Tetapkan 15 Tersangka dalam Kasus Gajah Mati dengan Kepala Terpotong Psikolog Ingatkan Pentingnya Memilah Informasi di Tengah Isu Perang untuk Jaga Kesehatan Mental

Humaniora

Psikolog Ingatkan Pentingnya Memilah Informasi di Tengah Isu Perang untuk Jaga Kesehatan Mental

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Imbauan Pakar Psikologi

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi, mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kemampuan memilah informasi ketika menghadapi pemberitaan dan perbincangan seputar isu perang. Ia menekankan bahwa cara individu mengonsumsi berita dapat berdampak pada kondisi emosi dan kesejahteraan psikologis.

Risiko Paparan Berita yang Berlebihan

Menurut Prof. Rose Mini Agoes Salim, terpapar informasi terus-menerus mengenai konflik atau peperangan berpotensi meningkatkan kecemasan, stres, dan perasaan tidak berdaya. Untuk itu, ia menganjurkan orang agar lebih selektif dalam memilih sumber informasi serta mengatur frekuensi dan durasi konsumsi berita, sehingga paparan tidak menjadi beban psikologis yang berkepanjangan.

Prinsip Memilah Informasi

Beberapa poin penting yang ditekankan adalah memastikan keakuratan sumber sebelum mempercayai atau membagikan informasi, membatasi paparan berita yang sensasional, serta menghindari siklus konsumsi informasi yang terus-menerus tanpa jeda. Memverifikasi fakta dari sumber terpercaya dapat membantu mengurangi kebingungan dan panik yang timbul akibat informasi yang belum jelas kebenarannya.

Strategi Menjaga Kesehatan Mental

Selain memilah berita, Prof. Rose juga menekankan pentingnya menjaga rutinitas harian, memelihara hubungan sosial, dan melakukan aktivitas yang menenangkan untuk meredam ketegangan emosional. Berhenti sejenak dari media sosial atau menonton berita, melakukan kegiatan fisik ringan, serta berbicara dengan orang terdekat dapat membantu mengelola respons stres.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

Dalam konteks keluarga, peran orang tua sangat penting untuk menyaring informasi yang diterima anak-anak dan menjelaskan situasi dengan bahasa yang sesuai usia. Lingkungan sosial juga dianjurkan untuk memberikan dukungan emosional, sehingga anggota keluarga tidak merasa sendirian menghadapi kecemasan yang timbul akibat pemberitaan konflik.

Kapan Mencari Bantuan Profesional

Prof. Rose mengingatkan bahwa jika perasaan cemas, tertekan, atau gangguan tidur berlangsung terus-menerus dan mengganggu fungsi sehari-hari, sebaiknya individu mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental. Intervensi profesional dapat membantu menyediakan strategi koping yang lebih terarah dan mendukung pemulihan kesejahteraan psikologis.

Kesimpulan: Di tengah derasnya arus informasi tentang perang dan konflik, kemampuan memilah serta mengelola paparan berita menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Seleksi sumber, pembatasan waktu konsumsi berita, dukungan sosial, dan langkah-langkah perawatan diri adalah elemen kunci yang dapat membantu individu menghadapi tekanan emosional akibat pemberitaan konflik.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kemendikdasmen Berikan Tunjangan Khusus Rp6 Juta untuk Guru Terdampak Bencana

3 Maret 2026 - 17:30 WIB

ANTARA News

Ustadz PBNU Jelaskan Batasan Hukum Mencium Istri Saat Berpuasa

3 Maret 2026 - 14:00 WIB

ANTARA News

Program CekTemanSebelah: Laporan Kebaikan Memicu Peningkatan Empati di Kalangan Remaja Jakarta

3 Maret 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Faktor Sosial Dikaitkan dengan Penurunan Kualitas Tidur Remaja, Kata Studi JAMA

3 Maret 2026 - 11:30 WIB

ANTARA News

Bambang Wuryanto: Cap Go Meh Singkawang 2026 sebagai Warisan Lokal yang Memperkaya Kebudayaan Nasional

3 Maret 2026 - 10:30 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora