BPBD Jatim Cepat Perbaiki Peralatan Early Warning System Pasca Banjir BPJS Ketenagakerjaan Dorong Seluruh Mitra Ojol Manfaatkan Potongan Iuran DVI Polda Sulut Identifikasi Tiga Korban Kebakaran di Panti Wreda Masalah Mata, Duet Marwan/Aisyah Dipastikan Absen dari Indonesia Masters 2026 Apkasindo: Perkuat Sektor Hulu Jadi Kunci Percepatan Hilirisasi Sawit BBKSDA Jawa Timur dan Mahasiswa Lakukan Pengamatan Burung Migrasi di Tulungagung

Humaniora

Merindukan Gus Dur: Haul yang Mengobarkan Kembali Warisan Nilai

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Merindukan Gus Dur

Baru-baru ini, haul untuk mengenang KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur kembali digelar. Perhelatan itu tidak semata-mata menjadi momen untuk mengingat sosok besar, melainkan juga berfungsi sebagai pengingat sekaligus penggerak bagi publik agar turut merawat dan meneruskan nilai-nilai yang pernah diperjuangkannya.

Suasana peringatan

Acara haul kerap menghadirkan nuansa reflektif: kesempatan bagi hadirin untuk menengok kembali warisan pemikiran dan sikap yang melekat pada sosok yang dirindukan. Selain upacara peringatan, momentum seperti ini sering dimaknai sebagai ruang bertemu antara generasi yang berbeda, di mana ingatan kolektif tentang tokoh yang dikenang dipertukarkan dan disegarkan.

Makna yang bangkit

Lebih dari sekadar ritual, haul menjadi sarana untuk menghidupkan kembali semangat dan ajaran yang diidentikkan dengan Gus Dur. Bagi banyak pihak, peringatan itu mengingatkan pentingnya sikap terbuka, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan. Dengan demikian, haul tidak hanya menggugah nostalgia tetapi juga mendorong aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Peran publik dan warisan

Acara seperti haul menegaskan peran publik dalam menjaga memori kolektif. Peringatan yang dilakukan bersama-sama memberi kesempatan untuk menilai kembali relevansi ajaran tokoh yang dikenang dalam konteks masa kini. Ini menjadi panggilan agar warisan nilai tidak sekadar tersimpan dalam kenangan, melainkan terus dipraktikkan dalam tindakan nyata sehari-hari oleh masyarakat.

Refleksi untuk masa depan

Haul yang diadakan baru-baru ini membuka ruang refleksi terhadap tantangan masa kini. Mengingat kembali sosok yang dirindukan pada momen seperti ini kerap memantik diskusi tentang bagaimana prinsip-prinsip yang diwariskan dapat dijadikan pedoman untuk menyikapi persoalan kontemporer. Dengan demikian, peringatan bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan titik tolak untuk berpikir tentang langkah kolektif ke depan.

Kesinambungan memori

Kehadiran haul secara berkala membantu menjaga kesinambungan memori kolektif. Bagi generasi yang lebih muda, peringatan bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal dan memahami figur yang menjadi bagian penting dalam sejarah bersama. Bagi mereka yang lebih lama mengenal sosok tersebut, momentumnya memberi kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen terhadap nilai-nilai yang dianggap penting.

Secara keseluruhan, peringatan baru-baru ini mengingatkan bahwa kerinduan terhadap sosok tertentu seringkali bukan sekadar rindu personal, melainkan ungkapan kebutuhan kolektif akan nilai-nilai yang dianggap membawa kebaikan bagi kehidupan bermasyarakat. Haul menjadi medium untuk meneruskan ingatan itu agar tetap hidup dan relevan.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mendukbangga: Program Makan Bergizi Berperan Turunkan Stunting di Jawa Barat

12 Januari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Dosen Sekolah Vokasi Undip Anggun Puspitarini Siswanto Raih Penghargaan dari Kampus di Jerman

12 Januari 2026 - 09:30 WIB

ANTARA News

Menteri PPPA Sampaikan Dukacita atas Meninggalnya Ibu dan Balita di Kebumen

11 Januari 2026 - 14:00 WIB

ANTARA News

Makam Kerajaan Ungkap Koleksi Satwa Langka Tertua di China

11 Januari 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Situbondo Bersiap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35: Serangkaian Persiapan Dilakukan

11 Januari 2026 - 12:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora