BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Humaniora

Akademisi UGM Sarankan Program Makan Bergizi Gratis Dijalankan 1–2 Hari per Minggu, Sisanya Bawa Bekal

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Jogja — Digna Niken Purwaningrum, akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengusulkan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah diselenggarakan tidak setiap hari, melainkan hanya 1–2 hari dalam seminggu. Saran ini ditujukan sebagai alternatif pelaksanaan program agar ada kombinasi antara layanan sekolah dan peran keluarga dalam penyediaan makanan bagi anak.

Inti Rekomendasi

Saran Digna menekankan pelaksanaan MBG dalam frekuensi terbatas di sekolah. Dengan skema seperti itu, anak-anak menerima makanan bergizi dari sekolah pada sejumlah hari tertentu, sementara pada hari-hari lain mereka diharapkan membawa bekal dari rumah.

Membuka Diskusi Pelaksanaan MBG

Rekomendasi ini memicu perbincangan mengenai model pelaksanaan program makan bergizi untuk peserta didik. Pilihan mengombinasikan layanan sekolah dan bekal rumah membuka ruang bagi kajian terkait bagaimana program diselenggarakan secara praktis, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan sekolah serta keluarga.

Aspek yang Perlu Dipertimbangkan

Saran tentang pemberian MBG pada satu atau dua hari per minggu juga menyoroti sejumlah aspek yang sering menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan program makan di sekolah. Di antaranya adalah bagaimana memastikan nutrisi yang diberikan sesuai dengan standar gizi, bagaimana peran keluarga dalam menyiapkan bekal, serta bagaimana menjaga kesinambungan program agar dapat memberikan manfaat bagi anak-anak.

Peran Sekolah dan Keluarga

Model kombinasi antara layanan MBG yang diselenggarakan sekolah dengan bekal yang dibawa dari rumah menempatkan tanggung jawab pada kedua pihak: sekolah sebagai penyelenggara hari-hari tertentu, dan keluarga sebagai penyedia makanan pada hari lainnya. Pendekatan semacam ini berpotensi menguatkan keterlibatan orang tua dalam pola makan anak sekaligus menjaga akses terhadap makanan bergizi yang disediakan oleh sekolah.

Pentingnya Kajian Lebih Lanjut

Usulan untuk membatasi hari pelaksanaan MBG ke 1–2 hari mendorong perlunya kajian lebih mendalam mengenai efektivitas skema tersebut. Evaluasi akan membantu memahami implikasi bagi pemenuhan kebutuhan gizi anak, dinamika keluarga, serta kelangsungan program di berbagai konteks sekolah.

Gambaran yang diajukan oleh Digna Niken Purwaningrum membuka ruang bagi dialog antara pembuat kebijakan, penyelenggara pendidikan, tenaga kesehatan, dan keluarga. Diskusi yang komprehensif diperlukan agar setiap kebijakan terkait program makan di sekolah dapat dirancang dengan mempertimbangkan aspek nutrisi, operasional, dan keberlanjutan.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Program Makan Bergizi Gratis Kini Menjangkau Lansia dan Penyandang Disabilitas

24 Maret 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Makna Hari Raya dalam Memperkuat Fungsi Keluarga

23 Maret 2026 - 19:00 WIB

ANTARA News

Lebaran dan Kewajiban untuk Bahagia: Antara Tradisi dan Harapan

23 Maret 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan untuk Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 1

22 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Dubes RI untuk Thailand Tekankan Persatuan dan Silaturahmi pada Perayaan Idul Fitri 1447 H

21 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora