Anggota DPR Tekankan Pentingnya Modal dan Narasi untuk Cagar Budaya
Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menegaskan bahwa kekayaan cagar budaya Indonesia yang telah memperoleh pengakuan dari UNESCO membutuhkan dukungan modal sekaligus penguatan narasi agar nilai dan potensi warisan tersebut dapat dimaksimalkan.
Dalam pernyataannya, Abdul Fikri menyoroti dua kebutuhan utama dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya: ketersediaan dana untuk pemeliharaan, konservasi, dan pengembangan fasilitas pendukung; serta penyusunan narasi yang mampu menjelaskan pentingnya situs-situs ini bagi publik lokal maupun internasional.
Menurut dia, pengakuan oleh UNESCO merupakan langkah awal yang berharga, namun pengakuan tersebut perlu diikuti oleh langkah-langkah konkret agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Tanpa dukungan finansial yang memadai, situs-situs bersejarah berisiko mengalami penurunan kondisi fisik, sementara tanpa narasi yang kuat, potensi edukatif dan nilai budaya tidak akan tersampaikan secara efektif.
Pentingnya modal bukan semata soal perbaikan fisik, tetapi juga mencakup investasi dalam pengelolaan yang profesional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang merawat situs, serta pengembangan sarana akses dan fasilitas bagi pengunjung. Sementara itu, penguatan narasi diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap cagar budaya, memberikan konteks historis dan kultural yang jelas, serta mendukung kegiatan pendidikan dan pariwisata yang berkelanjutan.
Abdul Fikri juga menekankan perlunya pendekatan yang terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas lokal, dan pelaku usaha. Sinergi antarpemangku kepentingan dinilai penting untuk merancang strategi pelestarian yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan tiap situs. Pendekatan partisipatif di tingkat komunitas dianggap dapat memperkuat rasa memiliki dan memastikan praktik pelestarian yang relevan dengan kondisi setempat.
Selain itu, narasi yang kuat dapat membantu melawan praktik komodifikasi yang semata mengutamakan aspek ekonomi tanpa memperhatikan nilai budaya dan kelestarian. Penyusunan narasi perlu menyoroti aspek-aspek edukatif, nilai kearifan lokal, serta urgensi menjaga warisan sebagai sumber identitas dan pengetahuan lintas generasi.
Upaya penguatan modal dan narasi dipandang sebagai langkah penting untuk memastikan bahwa status UNESCO bukan hanya sekadar label, tetapi menjadi katalisator bagi pelestarian jangka panjang dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang baik, cagar budaya dapat menjadi sumber pendidikan, kebanggaan nasional, dan kontribusi bagi perekonomian melalui pariwisata yang bertanggung jawab.
Penekanan pada kedua aspek tersebut menunjukkan bahwa pelestarian cagar budaya memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan aspek teknis konservasi, pembiayaan, pendidikan, komunikasi publik, dan tata kelola. Menurut Abdul Fikri, kombinasi antara dukungan modal dan narasi yang kuat dapat memperkuat posisi cagar budaya Indonesia di kancah internasional sekaligus memastikan manfaatnya dinikmati oleh masyarakat lokal.
Pernyataan ini mengajak semua pihak terkait untuk memperhatikan kebutuhan nyata di lapangan serta merumuskan langkah-langkah yang konkret demi menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa agar tetap lestari dan bermakna bagi generasi mendatang.
Foto: ANTARA News






