BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Ekonomi

Bank Indonesia: Efek ‘Low Base’ Jadi Pemicu Inflasi Tinggi Februari 2026

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

BI Ungkap Efek “Low Base” sebagai Faktor Kenaikan Inflasi Februari 2026

Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa salah satu faktor yang mendorong kenaikan inflasi pada Februari 2026 adalah fenomena yang dikenal sebagai “low base effect” atau efek basis rendah. Dalam penjelasannya, BI menyoroti bagaimana kondisi pada periode sebelumnya dapat memengaruhi perbandingan tahun-ke-tahun sehingga angka inflasi terlihat lebih tinggi.

Apa itu efek basis rendah?

Efek basis rendah terjadi ketika tingkat inflasi pada periode acuan di tahun sebelumnya relatif rendah. Ketika membandingkan angka harga tahun ini dengan periode tersebut, perubahan persentase bisa tampak besar meskipun kenaikan harga sebenarnya pada periode berjalan tidak setinggi yang terkesan. BI menegaskan bahwa fenomena ini bersifat mekanistis dalam statistik inflasi dan perlu dipahami saat mengevaluasi gerak annuitas harga dari waktu ke waktu.

Penjelasan BI terkait inflasi Februari 2026

Menurut pernyataan BI, kondisi basis yang rendah pada periode yang menjadi pembanding menghasilkan pembacaan inflasi tahun-ke-tahun yang lebih tinggi pada Februari 2026. Penjelasan tersebut dimaksudkan untuk memberi konteks terhadap angka inflasi yang diumumkan, sehingga publik dan pelaku ekonomi dapat membedakan antara kenaikan harga yang bersifat struktural dengan peningkatan yang dipengaruhi oleh faktor statistik pembanding.

Implikasi bagi pemantauan dan kebijakan

BI menekankan pentingnya melihat data inflasi secara lebih mendalam, termasuk analisis komponen penyebab dan pergerakan harga terkini, bukan hanya angka persentase tahunan semata. Pemahaman mengenai efek basis rendah membantu pembuat kebijakan dan pelaku pasar menilai apakah kenaikan inflasi bersifat sementara akibat perbandingan statistik atau mencerminkan tren yang memerlukan penyesuaian kebijakan moneter atau langkah lain.

Komunikasi kepada publik

Dengan memberikan penjelasan tentang efek basis rendah, BI berupaya meningkatkan transparansi dan membantu masyarakat serta pelaku usaha memahami konteks di balik angka inflasi yang dipublikasikan. Penjelasan semacam ini juga berguna untuk menenangkan kekhawatiran yang mungkin timbul ketika angka inflasi tahunan meningkat secara tajam tanpa disertai pemahaman tentang faktor pembanding.

BI menyarankan agar pemantauan inflasi dilakukan dengan mempertimbangkan beragam indikator dan periode perbandingan. Evaluasi yang komprehensif diperlukan agar respons kebijakan dapat disesuaikan dengan karakteristik penyebab inflasi yang sedang berlangsung.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla

26 Maret 2026 - 18:00 WIB

ANTARA News

Interactive Brokers Buka Fasilitas Transfer Portofolio Kripto untuk Menekan Biaya dan Memperluas Akses Pasar

26 Maret 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Harga Emas Pegadaian Menguat, UBS Rp2,862 Juta/gr dan Galeri24 Rp2,849 Juta/gr

26 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Rupiah Dapat Sentimen Positif dari Ekspektasi Gencatan Senjata AS–Iran

25 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Furniture China 2026: Edisi Bersejarah yang Menyambungkan Desain dan Peluang Bisnis

25 Maret 2026 - 10:00 WIB

ANTARA News
Trending di Ekonomi