Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa kolaborasi menjadi faktor utama dalam mewujudkan hilirisasi obat berbahan alam. Dalam hal ini, kolaborasi yang dimaksud melibatkan tiga unsur penting, yakni akademisi, pelaku industri, dan pemerintah.
Peran Penting Kolaborasi
Menurut BPOM, sinergi antara akademisi, pelaku usaha, dan regulasi pemerintah sangat krusial dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam untuk pengembangan obat. Hal ini tidak hanya membantu dalam proses inovasi, tetapi juga dalam memastikan standar keamanan dan mutu produk obat berbahan alam yang dihasilkan.
Akademisi memiliki peranan dalam penelitian dan pengembangan bahan alam menjadi produk obat yang efektif dan aman. Sementara para pelaku industri bertugas mengimplementasikan hasil riset tersebut ke dalam produksi massal yang memenuhi standar regulasi. Pemerintah, melalui BPOM dan instansi terkait, bertugas untuk mengawasi dan memberikan regulasi yang sesuai guna mendukung proses hilirisasi ini.
Manfaat Hilirisasi Obat Berbahan Alam
Hilirisasi obat berbahan alam diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bahan alam yang dimiliki oleh Indonesia, yang pada gilirannya mampu mendongkrak perekonomian nasional serta menciptakan kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan obat di dalam negeri.
BPOM juga mendorong agar semua pihak terkait terus memperkuat sinergi dan kerja sama agar hilirisasi obat berbahan alam dapat terlaksana secara optimal. Langkah strategis tersebut diyakini dapat mempercepat pengembangan produk obat herbal yang berkualitas dan aman untuk masyarakat.






