Nilai Tukar Petani Naik, BPS Catat Angka 125,35 pada Desember 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai tukar petani (NTP) secara nasional pada Desember 2025 tercatat sebesar 125,35. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan sebesar 1,05 persen dibandingkan periode sebelumnya.
NTP merupakan indikator yang menggambarkan perbandingan antara harga yang diterima petani untuk produk yang mereka hasilkan dengan harga atau biaya yang harus dikeluarkan petani untuk kebutuhan produksi. Kenaikan NTP umumnya ditafsirkan sebagai peningkatan daya beli petani, karena nilai yang mereka terima dari jualan relatif lebih tinggi terhadap biaya produksi.
Makna Kenaikan bagi Petani
Kenaikan persentase pada NTP dapat memiliki beberapa implikasi praktis. Pertama, pendapatan riil petani cenderung membaik jika harga produk meningkat lebih cepat daripada kenaikan biaya input. Kedua, perbaikan nilai tukar petani bisa mendorong kemampuan investasi pada usaha tani, seperti pembelian benih, pupuk, atau perbaikan fasilitas produksi.
Namun, NTP yang lebih tinggi tidak otomatis berarti kondisi ekonomi petani sepenuhnya membaik. Perubahan musiman, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika biaya produksi masih menjadi faktor yang memengaruhi kesejahteraan petani secara menyeluruh.
Pentingnya Pemantauan Berkala
BPS sebagai lembaga statistik terus memantau indikator seperti NTP untuk memberikan gambaran kondisi sektor pertanian. Data berkala ini membantu pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan pelaku di sektor pertanian menilai perkembangan harga dan merencanakan intervensi yang tepat.
Dengan angka NTP yang terupdate, pihak terkait dapat meninjau kebijakan harga, subsidi, atau dukungan teknis yang diperlukan agar pendapatan petani lebih stabil dan produksi pertanian tetap berkelanjutan.
Kesimpulan
Data BPS menunjukkan NTP nasional pada Desember 2025 berada pada level 125,35 dan mengalami kenaikan 1,05 persen. Indikator ini menjadi salah satu acuan dalam menilai posisi harga yang diterima petani terhadap biaya yang mereka keluarkan, sehingga berguna untuk analisis kondisi ekonomi sektor pertanian secara lebih luas.
Foto: ANTARA News






