Gunungan Sampah sebagai Wajah Kota
Gunungan sampah kerap menjadi simbol paling nyata dari kondisi sebuah kota. Tumpukan limbah menampilkan sisa-sisa pola konsumsi, kebiasaan hidup, serta kelemahan sistem pengelolaan kota yang belum menyentuh akar masalah.
Peningkatan Volume dan Tantangan Pengelolaan
Di sejumlah wilayah, termasuk yang terlihat di Mataram, peningkatan volume sampah menunjukkan tekanan terhadap layanan kebersihan publik. Ketika kapasitas pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan tidak sejalan dengan pertambahan limbah, dampaknya mudah terlihat: fasilitas pembuangan menumpuk, lahan penampungan penuh, dan kualitas ruang publik menurun.
Janji Pembangunan yang Harus Dipertanggungjawabkan
Permasalahan sampah seringkali menagih janji-janji pembangunan yang diberikan oleh berbagai pihak. Investasi infrastruktur, perbaikan layanan, dan kebijakan pengelolaan yang komprehensif menjadi harapan banyak warga. Bila janji tersebut tidak segera diterjemahkan ke langkah nyata, kondisi di lapangan cenderung stagnan atau memburuk.
Akar Permasalahan
Masalah pengelolaan sampah bukan hanya soal fasilitas fisik. Ia terkait dengan pola konsumsi masyarakat, tingkat kesadaran memilah sampah, sistem pembiayaan layanan kebersihan, serta koordinasi antar lembaga yang menangani lingkungan hidup dan pelayanan publik. Tanpa pendekatan menyeluruh yang menggabungkan aspek teknis, regulasi, dan sosial, upaya perbaikan sulit berkelanjutan.
Langkah-Langkah yang Perlu Diperkuat
Untuk merespons tekanan volume sampah, beberapa langkah penting bisa menjadi fokus tanpa menguras sumber daya secara drastis. Pertama, penguatan pengelolaan di sumber melalui edukasi dan program pemilahan dapat mengurangi beban fasilitas pengolahan. Kedua, perbaikan rute dan kapasitas pengangkutan membantu mencegah penumpukan sementara di titik pengumpulan. Ketiga, perencanaan jangka panjang untuk fasilitas pengolahan yang ramah lingkungan diperlukan agar kota mampu menampung dan mengelola limbah secara lebih efisien.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Perubahan yang berarti menuntut kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan warga. Pemerintah perlu memperjelas komitmen dan menindaklanjuti janji pembangunan dengan kebijakan yang terukur dan transparan. Di sisi lain, masyarakat berperan melalui praktik sehari-hari, seperti pengurangan sampah, pemilahan, dan mendukung program-program lokal.
Menuju Tata Kelola Sampah yang Lebih Baik
Gunungan sampah yang terlihat bukan sekadar masalah estetika; ia mencerminkan tantangan tata kelola perkotaan. Menjawab tantangan ini memerlukan keseriusan dalam perencanaan, investasi yang tepat sasaran, serta perubahan perilaku kolektif. Hanya dengan pendekatan terpadu janji-janji pembangunan terkait kebersihan dan lingkungan dapat diuji dan dipulihkan kepercayaan publik.
Foto: Kondisi peningkatan volume sampah di Mataram yang merefleksikan tekanan pada sistem pengelolaan limbah kota.
Foto: ANTARA News






