BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Warta Bumi

HNSI Jatim: Pengembangan Energi Pesisir Harus Lindungi Mata Pencaharian Nelayan

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Pernyataan dari HNSI Jawa Timur kembali menyoroti pentingnya perencanaan matang dalam pengembangan sektor energi di wilayah pesisir Provinsi Jawa Timur. Organisasi itu mengingatkan bahwa upaya pengembangan harus disusun dalam bentuk roadmap yang jelas agar tidak memicu de-nelayanisasi di kawasan pesisir.

Pentingnya roadmap terencana

HNSI Jatim menekankan bahwa pembangunan dan pemanfaatan sumber energi di pesisir tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Menurut pernyataan organisasi tersebut, diperlukan peta jalan yang terencana dengan baik untuk memastikan setiap langkah pembangunan mempertimbangkan konsekuensi sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir, khususnya para nelayan.

Dalam konteks ini, istilah “de-nelayanisasi” dipakai untuk menggambarkan potensi hilangnya mata pencaharian nelayan akibat perubahan penggunaan ruang pesisir dan tekanan pembangunan. HNSI Jatim mengingatkan agar proses transisi energi tidak mengorbankan keberlangsungan aktivitas perikanan yang selama ini menjadi tumpuan hidup banyak keluarga di pesisir Jawa Timur.

Fokus pada dampak terhadap komunitas pesisir

Pesan utama yang disampaikan HNSI Jatim adalah agar setiap proyek energi pesisir mempertimbangkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap komunitas lokal. Itu mencakup aspek ketersediaan wilayah tangkap, akses ke sarana produksi, serta kesinambungan ekonomi rumah tangga yang menggantungkan hidup pada laut.

Dengan adanya peta jalan yang jelas, diharapkan langkah-langkah mitigasi dapat disiapkan lebih awal. Hal ini penting agar masyarakat pesisir dapat menyesuaikan diri tanpa kehilangan penghidupan, atau paling tidak mendapatkan kompensasi dan alternatif mata pencaharian yang layak selama fase transisi.

Perencanaan sebagai upaya pencegahan

HNSI Jatim menggarisbawahi bahwa pencegahan de-nelayanisasi memerlukan perencanaan terpadu yang mengaitkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Roadmap yang dimaksud diharapkan bukan hanya berisi jadwal kegiatan teknis, tetapi juga strategi untuk melindungi hak-hak nelayan dan menjamin keberlanjutan sumber daya laut.

Pentingnya perencanaan ini tampak terutama ketika proyek energi pesisir berpotensi mengubah tata guna lahan laut, mengurangi area tangkap, atau mengganggu ekosistem yang menopang ketersediaan ikan. Oleh karena itu, upaya antisipatif menjadi bagian integral agar dampak negatif bisa diminimalkan.

Penutup

Pernyataan HNSI Jawa Timur ini menegaskan bahwa pengembangan energi di wilayah pesisir harus dilaksanakan dengan kehati-hatian dan perencanaan yang matang. Roadmap yang komprehensif dianggap sebagai alat penting untuk menjaga keberlanjutan mata pencaharian nelayan serta mengurangi risiko de-nelayanisasi yang dapat menimbulkan dampak sosial-ekonomi luas di pesisir Jawa Timur.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia

26 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

26 Maret 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

BMKG Ingatkan Waspada Hujan Disertai Kilat dan Angin di Mayoritas Kota Besar

23 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

IPB: Limbah Kelapa Sawit Berpeluang Diolah Jadi Produk Bernilai Tambah

22 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Menteri Lingkungan Hidup Tegur Pengelola Terminal Kertonegoro karena Kebersihan Kurang

15 Maret 2026 - 16:00 WIB

ANTARA News
Trending di Warta Bumi