Menuju Abad Kedua NU: Islah dan Tantangan Digital
Menjelang usia dua abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 2026, sebuah forum konsultasi menghadirkan momentum refleksi tentang arah organisasi. Dari pertemuan itu muncul perhatian kuat terhadap dua isu pokok: perlunya islah di tingkat pengurus besar dan pentingnya memahami implikasi era digital bagi kelangsungan gerakan.
Makna Islah bagi Kepemimpinan Organisasi
Islah, dalam konteks organisasi sebesar NU, merujuk pada upaya pemulihan, rekonsiliasi, dan penyegaran tata kelola. Pendekatan ini tidak semata soal mengatasi perselisihan internal, tetapi juga menyentuh pembaruan mekanisme pengambilan keputusan, komunikasi antarfungsi, dan upaya memperkuat keterikatan struktural serta nilai-nilai bersama.
Forum konsultasi yang berlangsung menjadi ruang bagi berbagai pihak untuk menimbang kembali praktik kepemimpinan dan sinergi antar-lembaga. Proses islah yang efektif dipandang penting agar organisasi dapat bergerak kolektif, menjaga kohesi, serta memantapkan legitimasi sosialnya menjelang tonggak sejarah baru.
Pelajaran dari Era Digital
Era digital membawa dinamika komunikasi dan organisasi yang berbeda. Digitalisasi memudahkan penyebaran informasi, mempercepat akses, sekaligus menciptakan kebutuhan baru akan literasi media dan kebijakan informasi. Dalam konteks organisasi keagamaan, hal ini menuntut keseimbangan antara memanfaatkan teknologi untuk menguatkan dakwah serta menjaga kehati-hatian terhadap disinformasi dan polarisasi digital.
Pelajaran utama dari era digital yang disorot dalam forum adalah perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola data, dan strategi komunikasi yang adaptif. Mengelola kehadiran digital organisasi sekaligus menjaga etika dan tradisi menjadi tantangan yang memerlukan pendekatan sistematis.
Integrasi Nilai Tradisi dan Inovasi
Menjelang abad kedua, pertanyaan sentral bukan hanya bagaimana mempertahankan warisan, tetapi juga bagaimana mengintegrasikannya dengan inovasi yang relevan. Tradisi keagamaan dan sistem organisasi yang telah lama terbangun harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Di sinilah peran islah sebagai mekanisme yang memungkinkan pembaruan dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan.
Strategi yang berfokus pada pendidikan digital, pelatihan kepemimpinan, dan perbaikan prosedur internal dapat menjadi langkah konkret untuk menjembatani warisan tradisional dengan tuntutan zaman.
Catatan Penutup
Dua isu yang menonjol di forum konsultasi — islah PBNU dan pelajaran era digital — merefleksikan kebutuhan untuk menyatukan kekuatan internal sekaligus menangkap peluang zaman. Menyongsong usia dua abad merupakan momentum penting untuk memperkuat fondasi organisasi melalui rekonsiliasi internal dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, sehingga peran sosial dan manfaat organisasi dapat terus berkembang di masa depan.
Foto: ANTARA News






