Indonesia Berduka: Seruan Untuk Hutan dan Kehidupan
“Indonesia sedang berduka. Semua sedang berduka. Hutan kita, ibu kita …” ungkap seorang Guru Besar Fakultas dalam sebuah pernyataan yang menyoroti suasana duka nasional terhadap kondisi hutan. Kalimat itu menjadi pengingat kuat tentang hubungan mendalam antara manusia dan alam, khususnya hutan yang sering dipandang sebagai sumber kehidupan dan identitas kolektif.
Hutan sebagai ibu bukan sekadar metafora; ia menggambarkan peran hutan dalam menopang kehidupan. Dari ketersediaan air, penopang keberagaman hayati, hingga fungsi ekologis yang menjaga keseimbangan iklim lokal, hutan memberi banyak hal yang mendasar bagi masyarakat. Kehilangan atau kerusakan hutan berarti terganggunya jasa-jasa ekologis yang selama ini dinikmati bersama.
Pernyataan tokoh akademik tersebut juga membuka ruang diskusi tentang bagaimana bangsa ini memaknai dan merawat sumber daya alamnya. Kepedulian bukan hanya tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab kolektif yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas lokal, hingga masyarakat luas. Pendidikan dan pemahaman mengenai pentingnya hutan menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bersama.
Memahami hutan berarti mengenali fungsi ekologis, nilai budaya, dan keterkaitan antara kondisi hutan dengan kesejahteraan manusia. Pendekatan ilmiah dan kearifan lokal dapat berjalan berdampingan untuk menjaga kelestarian. Upaya pemantauan, penelitian, dan pelibatan masyarakat sekitar hutan perlu ditingkatkan agar keputusan pengelolaan lebih berpijak pada data dan kebutuhan nyata di lapangan.
Menyayangi ibu menuntut sikap hormat dan perlindungan. Menghentikan praktik yang merusak, mengurangi tekanan terhadap ekosistem, serta mendorong rehabilitasi kawasan yang rusak adalah bentuk nyata dari kasih sayang terhadap alam. Di samping itu, pelestarian bukan hanya soal tindakan fisik, tetapi juga perubahan sikap yang menghargai nilai jangka panjang ketimbang keuntungan sesaat.
Seruan untuk menyelamatkan kehidupan menegaskan bahwa upaya pelestarian hutan berkaitan langsung dengan keberlangsungan generasi sekarang dan masa depan. Hutan yang sehat mendukung ketersediaan sumber daya alam, menjaga keberagaman hayati, dan mengurangi risiko gangguan lingkungan yang berdampak pada kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlindungan hutan adalah investasi untuk ketahanan dan kesejahteraan bersama.
Dalam konteks ini, pendekatan kolaboratif menjadi kunci. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas adat perlu saling berkoordinasi untuk merancang langkah-langkah pelestarian yang realistis dan berkelanjutan. Dukungan publik melalui peningkatan literasi lingkungan serta partisipasi aktif masyarakat dapat memperkuat upaya perlindungan di tingkat lokal.
Pesan yang disampaikan oleh tokoh akademik tersebut menyerukan refleksi kolektif: bagaimana kita memandang dan memperlakukan alam, bagaimana kita mewariskan lingkungan kepada anak cucu, dan bagaimana langkah nyata yang harus diambil untuk merawat ibu yang memberi kehidupan. Kesadaran ini menjadi dasar untuk bergerak bersama demi menjaga dan memulihkan hutan sebagai warisan bersama.
Gambar yang menyertai pernyataan tersebut menggambarkan kondisi yang memantik keprihatinan publik, sekaligus mengajak semua pihak untuk bertindak. Di saat bangsa merasakan duka, momen itu bisa menjadi pemicu kebijakan dan aksi yang lebih serius demi kelestarian hutan dan keselamatan hidup di masa mendatang.
Foto: ANTARA News






