Gubernur: Beberapa Program Pusat Sudah Berjalan di Rejang Lebong IRGC Konfirmasi Peluncuran Gelombang Pertama Serangan Roket ke Israel Indonesia dan Mimpi Kolektif Negara D-8: Menopang Harap dari Posisi Menunggu BI: Kapasitas Penyaluran Kredit Masih Longgar, Didorong untuk Percepat Pertumbuhan Pengamat Dorong Tetap Dibukanya Opsi Transit Saat Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik Toyota Perbarui Yaris dan Yaris Cross 2026 dengan Peningkatan Teknologi

Ekonomi

OJK: Scam Adalah ‘Anak Haram’ dari Digitalisasi Transaksi Keuangan

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Jakarta — Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menyatakan bahwa scam atau penipuan merupakan “anak haram” dari proses digitalisasi transaksi keuangan. Pernyataan ini menekankan sisi gelap yang turut muncul seiring berkembangnya layanan keuangan berbasis digital.

Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana kemudahan dan kecepatan transaksi elektronik juga membuka celah bagi praktik penipuan. Dalam konteks ini, istilah “anak haram” dipakai untuk menandai bahwa fenomena scam muncul sebagai konsekuensi tidak diinginkan dari transformasi digital yang berlangsung di sektor jasa keuangan.

Mahendra Siregar mengangkat isu ini pada kesempatan yang diwartakan media, mengingatkan publik bahwa modernisasi layanan keuangan membawa keuntungan sekaligus tantangan. Salah satu implikasi yang menjadi sorotan adalah peningkatan kompleksitas risiko bagi konsumen yang bertransaksi secara digital.

Permasalahan scam mencakup berbagai modus yang berbasis teknologi dan komunikasi elektronik. Karena itu, pernyataan OJK menyoroti pentingnya pemahaman terhadap potensi risiko saat melakukan aktivitas perbankan atau transaksi keuangan lain melalui kanal digital.

Pernyataan dari pimpinan OJK ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pihak terkait dalam ekosistem jasa keuangan untuk terus mempertimbangkan aspek perlindungan konsumen dan keamanan saat mengembangkan layanan digital. Transformasi digital yang berkelanjutan perlu diimbangi dengan langkah-langkah yang memperkecil peluang terjadinya penyalahgunaan teknologi untuk tujuan penipuan.

Selain itu, pemahaman dan kewaspadaan nasabah turut menjadi komponen penting. Masyarakat yang sadar akan risiko dan cara mengenali tanda-tanda penipuan cenderung lebih terlindungi ketika memanfaatkan layanan keuangan berbasis digital. Kesadaran semacam ini juga memperkuat upaya pencegahan di tingkat individu.

Pernyataan tentang scam sebagai efek samping digitalisasi memberikan perspektif bahwa perkembangan teknologi tidak hanya soal inovasi produk dan efisiensi, tetapi juga menuntut perhatian pada tata kelola, pengawasan, dan edukasi pengguna. Kritik atau pengingat seperti ini membantu menjaga keseimbangan antara adopsi teknologi dan mitigasi risiko yang mungkin muncul.

Gambar terkait pernyataan tersebut menampilkan kondisi saat Mahendra Siregar menyampaikan pandangannya mengenai isu scam dan digitalisasi transaksi. Isu ini tetap relevan seiring percepatan digitalisasi layanan keuangan di berbagai lapisan masyarakat.

Dengan adanya sorotan dari otoritas keuangan, diharapkan dialog mengenai keamanan digital, perlindungan konsumen, dan praktik pencegahan penipuan terus berkembang—sehingga manfaat transformasi digital dapat dinikmati lebih aman oleh publik luas.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

BI: Kapasitas Penyaluran Kredit Masih Longgar, Didorong untuk Percepat Pertumbuhan

28 Februari 2026 - 16:00 WIB

ANTARA News

Pengamat Dorong Tetap Dibukanya Opsi Transit Saat Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik

28 Februari 2026 - 15:30 WIB

ANTARA News

Kemendag: Kenaikan Harga Referensi CPO Dikaitkan dengan Permintaan India dan China

28 Februari 2026 - 14:30 WIB

ANTARA News

AHY: Momentum Ramadan Tingkatkan Daya Beli dan Gerakkan Ekonomi Lokal

27 Februari 2026 - 19:30 WIB

ANTARA News

Patra Jasa Luncurkan Rangkaian Promo Menyambut Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 10:30 WIB

ANTARA News
Trending di Ekonomi