Pan Qiaoying, Penyintas Pembantaian Nanjing, Wafat pada Usia 95 Tahun
Pan Qiaoying, seorang perempuan yang dikenal sebagai penyintas Pembantaian Nanjing, meninggal dunia pada hari Kamis (1/1) pada usia 95 tahun. Kepergiannya menandai berkurangnya jumlah langsung saksi hidup dari peristiwa tragis tersebut.
Kehilangan saksi sejarah
Kematian Pan Qiaoying mengurangi jumlah saksi hidup yang masih ada. Menurut data yang dilaporkan bersamaan dengan informasi tentang wafatnya Pan, kini tersisa 23 orang saksi hidup yang dapat memberikan keterangan langsung tentang peristiwa tersebut.

Peran saksi hidup
Saksi langsung seperti Pan memegang peran penting dalam mempertahankan ingatan kolektif terhadap peristiwa masa lalu. Kesaksian mereka menjadi sumber informasi primer yang membantu masyarakat memahami pengalaman dan dampak yang dialami oleh para korban. Dengan berkurangnya jumlah penyintas, kesempatan bagi generasi mendatang untuk mendengar cerita dari orang yang mengalami sendiri peristiwa itu juga turut berkurang.
Peran tersebut tidak hanya bersifat faktual, tetapi juga emosional dan simbolis. Kehadiran penyintas sering kali menjadi pengingat akan konsekuensi kemanusiaan dari tragedi besar, serta menjadi titik rujukan bagi upaya pendidikan dan dokumentasi sejarah.
Warisan ingatan
Meninggalnya seorang penyintas membawa konsekuensi pada bagaimana peristiwa itu akan dilestarikan. Ketika saksi-saksi langsung semakin sedikit, tanggung jawab untuk memelihara ingatan kolektif berpindah kepada catatan tertulis, rekaman, penelitian sejarah, serta pendidikan publik. Bahan-bahan dokumenter yang dikumpulkan dari kesaksian para penyintas menjadi semakin berharga seiring berlalunya waktu.
Organisasi dan individu yang bekerja dalam bidang dokumentasi sejarah dan hak asasi manusia biasanya mengandalkan kesaksian tersebut untuk memastikan bahwa pengalaman korban tidak terlupakan. Peran keluarga, lembaga penelitian, serta pihak-pihak yang mengelola arsip menjadi krusial untuk menjaga agar narasi sejarah tetap akurat dan dapat diakses.
Refleksi publik
Kabar wafatnya Pan Qiaoying juga menjadi momen refleksi bagi publik yang mengenang peristiwa masa lalu. Dengan semakin berkurangnya penyintas, publik diingatkan akan pentingnya mencatat dan menyebarluaskan informasi berbasis bukti agar kisah-kisah korban tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Saat saksi langsung terus menyusut, upaya pengarsipan, pendidikan, dan penyebaran informasi menjadi jalur utama untuk menjamin bahwa generasi mendatang memperoleh pemahaman yang benar tentang apa yang dialami oleh mereka yang terdampak.
Kesimpulan
Kepergian Pan Qiaoying pada usia 95 tahun menjadi pengingat bahwa waktu menipiskan jumlah saksi hidup peristiwa bersejarah. Dengan tersisa 23 saksi, penting bagi masyarakat dan lembaga terkait untuk memperkuat upaya dokumentasi dan pendidikan agar jejak sejarah tetap terjaga dan dapat diakses oleh generasi mendatang.
Foto: ANTARA News






