BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Humaniora

Psikolog Ingatkan Pentingnya Memilah Informasi di Tengah Isu Perang untuk Jaga Kesehatan Mental

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Imbauan Pakar Psikologi

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi, mengingatkan masyarakat tentang pentingnya kemampuan memilah informasi ketika menghadapi pemberitaan dan perbincangan seputar isu perang. Ia menekankan bahwa cara individu mengonsumsi berita dapat berdampak pada kondisi emosi dan kesejahteraan psikologis.

Risiko Paparan Berita yang Berlebihan

Menurut Prof. Rose Mini Agoes Salim, terpapar informasi terus-menerus mengenai konflik atau peperangan berpotensi meningkatkan kecemasan, stres, dan perasaan tidak berdaya. Untuk itu, ia menganjurkan orang agar lebih selektif dalam memilih sumber informasi serta mengatur frekuensi dan durasi konsumsi berita, sehingga paparan tidak menjadi beban psikologis yang berkepanjangan.

Prinsip Memilah Informasi

Beberapa poin penting yang ditekankan adalah memastikan keakuratan sumber sebelum mempercayai atau membagikan informasi, membatasi paparan berita yang sensasional, serta menghindari siklus konsumsi informasi yang terus-menerus tanpa jeda. Memverifikasi fakta dari sumber terpercaya dapat membantu mengurangi kebingungan dan panik yang timbul akibat informasi yang belum jelas kebenarannya.

Strategi Menjaga Kesehatan Mental

Selain memilah berita, Prof. Rose juga menekankan pentingnya menjaga rutinitas harian, memelihara hubungan sosial, dan melakukan aktivitas yang menenangkan untuk meredam ketegangan emosional. Berhenti sejenak dari media sosial atau menonton berita, melakukan kegiatan fisik ringan, serta berbicara dengan orang terdekat dapat membantu mengelola respons stres.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

Dalam konteks keluarga, peran orang tua sangat penting untuk menyaring informasi yang diterima anak-anak dan menjelaskan situasi dengan bahasa yang sesuai usia. Lingkungan sosial juga dianjurkan untuk memberikan dukungan emosional, sehingga anggota keluarga tidak merasa sendirian menghadapi kecemasan yang timbul akibat pemberitaan konflik.

Kapan Mencari Bantuan Profesional

Prof. Rose mengingatkan bahwa jika perasaan cemas, tertekan, atau gangguan tidur berlangsung terus-menerus dan mengganggu fungsi sehari-hari, sebaiknya individu mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental. Intervensi profesional dapat membantu menyediakan strategi koping yang lebih terarah dan mendukung pemulihan kesejahteraan psikologis.

Kesimpulan: Di tengah derasnya arus informasi tentang perang dan konflik, kemampuan memilah serta mengelola paparan berita menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Seleksi sumber, pembatasan waktu konsumsi berita, dukungan sosial, dan langkah-langkah perawatan diri adalah elemen kunci yang dapat membantu individu menghadapi tekanan emosional akibat pemberitaan konflik.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Program Makan Bergizi Gratis Kini Menjangkau Lansia dan Penyandang Disabilitas

24 Maret 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Makna Hari Raya dalam Memperkuat Fungsi Keluarga

23 Maret 2026 - 19:00 WIB

ANTARA News

Lebaran dan Kewajiban untuk Bahagia: Antara Tradisi dan Harapan

23 Maret 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan untuk Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 1

22 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Dubes RI untuk Thailand Tekankan Persatuan dan Silaturahmi pada Perayaan Idul Fitri 1447 H

21 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora