BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Ekonomi

Rupiah Melemah pada Pembukaan Perdagangan, Dipengaruhi Pernyataan Hawkish Pejabat The Fed

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 18 poin atau sekitar 0,11 persen terhadap dolar AS. Pergerakan ini terjadi seiring respons pasar terhadap pernyataan pejabat The Federal Reserve yang dinilai bernada hawkish.

Apa Makna Pernyataan Hawkish?

Hawkish merujuk pada sikap pejabat bank sentral yang cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat, misalnya melalui kenaikan suku bunga atau sinyal untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi. Dalam konteks pasar keuangan, sinyal seperti itu kerap mendorong penguatan mata uang yang terkait dengan kebijakan moneter tersebut, dalam hal ini dolar AS, karena memperkuat imbal hasil aset-aset berbasis dolar dan menarik aliran modal.

Dampak ke Pasar Valuta dan Sentimen Investor

Reaksi awal pasar memperlihatkan sentimen risk-off, di mana pelaku pasar mengalihkan posisi ke aset yang dianggap lebih aman. Penguatan dolar AS yang muncul setelah pernyataan hawkish menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Tekanan ini tercermin pada penurunan nilai tukar di pembukaan perdagangan.

Faktor-Faktor yang Perlu Diamati

Selain pernyataan pejabat the Fed, sejumlah faktor biasanya turut memengaruhi gerak rupiah, seperti perkembangan arus modal asing, data ekonomi domestik maupun global, serta kondisi pasar keuangan secara umum. Pelaku pasar biasanya akan memantau pernyataan lanjutan dari otoritas moneter, data ekonomi utama, serta dinamika imbal hasil obligasi global yang dapat memperkuat atau meredam tekanan pada mata uang lokal.

Prospek Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, nilai tukar cenderung bereaksi terhadap berita dan ekspektasi suku bunga global. Bila sentimen pasar tetap menguat ke arah penghindaran risiko dan dolar AS kembali menguat, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut. Sebaliknya, jika ekspektasi terhadap pengetatan moneter global mereda, rupiah berpeluang stabil atau menguat kembali.

Penutup

Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu mencerminkan sensitivitas pasar terhadap sinyal kebijakan moneter global. Pasar akan terus mencermati pernyataan pejabat bank sentral dan indikator ekonomi yang dapat mengubah prospek aliran modal dan nilai tukar.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla

26 Maret 2026 - 18:00 WIB

ANTARA News

Interactive Brokers Buka Fasilitas Transfer Portofolio Kripto untuk Menekan Biaya dan Memperluas Akses Pasar

26 Maret 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Harga Emas Pegadaian Menguat, UBS Rp2,862 Juta/gr dan Galeri24 Rp2,849 Juta/gr

26 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Rupiah Dapat Sentimen Positif dari Ekspektasi Gencatan Senjata AS–Iran

25 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Furniture China 2026: Edisi Bersejarah yang Menyambungkan Desain dan Peluang Bisnis

25 Maret 2026 - 10:00 WIB

ANTARA News
Trending di Ekonomi