Guru Besar Universitas Trisakti Trubus Rahardiansyah menyatakan bahwa pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berpotensi mencederai komitmen bersama terhadap proses perdamaian di Aceh. Menurutnya, simbol-simbol yang terkait konflik masa lalu memiliki dampak emosional dan politis yang kuat, sehingga tindakan tersebut dapat menimbulkan kegelisahan di kalangan masyarakat yang telah mengalami proses rekonsiliasi.
Makna simbolis dan dampaknya
Trubus menekankan bahwa pengibaran simbol-simbol perlawanan dari masa konflik bukan sekadar tindakan simbolik; bagi sebagian pihak hal itu dapat dipersepsikan sebagai tantangan terhadap hasil proses perdamaian yang telah dibangun. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa munculnya kembali simbol-simbol seperti bendera GAM bisa mengganggu rasa aman dan kepercayaan publik terhadap keberlanjutan rekonsiliasi di Aceh.
Dalam konteks ini, pengamat tersebut mengingatkan pentingnya sensitivitas terhadap latar belakang historis dan psikologis masyarakat pascakonflik. Ia menilai setiap tindakan yang membuka kembali memori konflik perlu ditangani dengan hati-hati agar tidak memicu ketegangan sosial yang dapat merusak ikhtiar bersama menuju stabilitas dan pembangunan.
Implikasi politis dan sosial
Trubus juga menyampaikan bahwa peristiwa yang memunculkan simbol-simbol konflik kerap memiliki implikasi politis. Menurutnya, simbol-simbol tersebut dapat dimaknai secara berbeda oleh berbagai pihak dan berpotensi memicu perdebatan publik. Dalam situasi seperti ini, ia menilai dialog dan penanganan yang sensitif menjadi penting untuk meredam potensi eskalasi persepsi yang kontradiktif.
Lebih jauh, pengamat ini mengingatkan bahwa upaya menjaga komitmen perdamaian tidak hanya kewajiban institusi formal, tetapi juga tanggung jawab kolektif masyarakat. Pemulihan sosial dan kepercayaan pascakonflik memerlukan kehati-hatian dalam menanggapi tindakan yang dapat mengusik keseimbangan sosial-politik.
Pesan untuk semua pihak
Pernyataan Trubus menyoroti perlunya kepedulian dari semua pihak terhadap simbol-simbol yang berhubungan dengan masa lalu konflik. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang konstruktif dan persuasif agar berbagai pihak dapat memahami dampak tindakan simbolik terhadap proses perdamaian yang tengah berjalan.
Analisis yang disampaikan menunjukkan bahwa pemulihan pascakonflik bukan hanya soal kebijakan formal, melainkan juga soal bagaimana masyarakat dan pemimpin setempat menjaga hubungan sosial agar tidak kembali terjerumus ke pada dinamika yang merugikan stabilitas. Simbol-simbol sejarah yang sensitif perlu ditangani dalam bingkai rekonsiliasi agar upaya perdamaian tetap terjaga.
Pernyataan ini menjadi pengingat akan kerentanan proses perdamaian terhadap tindakan-tindakan yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian pihak, namun memiliki konsekuensi luas bagi iklim sosial dan politik di Aceh.
Foto: ANTARA News






