Nilai tukar rupiah mengalami penurunan pada akhir perdagangan di pasar domestik pada Kamis, tercatat terdepresiasi sebanyak 18 poin atau setara 0,11 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan indikasi pemulihan aktivitas bisnis di Amerika Serikat yang memengaruhi dinamika permintaan aset berdenominasi dolar.
Perbaikan kondisi bisnis di AS mendorong penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang lain, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Ketika prospek ekonomi di AS menunjukkan tanda-tanda membaik, investor cenderung meningkatkan alokasi aset berisiko rendah dan likuid yang bernilai dolar, memicu apresiasi mata uang tersebut di pasar global.
Di pasar domestik, sentimen eksternal seperti pergerakan indeks aktivitas bisnis AS menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi nilai tukar harian. Kondisi eksternal itu berperan dalam menentukan arus modal serta preferensi investor asing terhadap aset di pasar negara berkembang. Faktor teknikal dan rebalancing portofolio juga turut berkontribusi pada fluktuasi harian rupiah, meskipun rincian transaksi dan pihak yang melakukan aksi beli-jual tidak diungkap secara spesifik oleh pelaku pasar.
Pelemahan sebesar 18 poin yang tercatat pada penutupan tersebut merupakan respons pasar terhadap bayangan prospek suku bunga dan permintaan aset berdenominasi dolar yang dipengaruhi oleh data serta indikator bisnis di AS. Sejumlah pelaku pasar memantau dengan seksama rilis data ekonomi utama dan keputusan kebijakan yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat, karena perubahan ekspektasi ini berpotensi memicu volatilitas pada pasar mata uang global.
Sementara itu, pelaku pasar domestik kemungkinan akan terus mengamati perkembangan data ekonomi dalam negeri, kebijakan moneter, serta kondisi likuiditas untuk menilai tekanan yang dihadapi rupiah. Pergerakan mata uang masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, sehingga setiap rilis informasi baru dari luar maupun dalam negeri dapat mengubah sentimen dan aliran modal secara cepat.
Para analis dan investor umumnya merekomendasikan pendekatan hati-hati dalam menghadapi periode volatilitas seperti ini. Pemantauan berkelanjutan terhadap indikator ekonomi utama, pernyataan pembuat kebijakan, serta pergerakan pasar global menjadi kunci untuk menilai arah jangka pendek rupiah.
Secara ringkas, koreksi rupiah pada penutupan perdagangan Kamis mencerminkan sensitivitas mata uang terhadap perbaikan aktivitas bisnis di Amerika Serikat, yang mendorong penguatan dolar dan menekan sebagian mata uang negara berkembang. Pasar akan tetap memantau perkembangan selanjutnya untuk menilai apakah tekanan tersebut bersifat sementara atau berlanjut seiring perubahan data ekonomi dan kebijakan moneter global.
Foto: ANTARA News






