BPBD Jatim Cepat Perbaiki Peralatan Early Warning System Pasca Banjir BPJS Ketenagakerjaan Dorong Seluruh Mitra Ojol Manfaatkan Potongan Iuran DVI Polda Sulut Identifikasi Tiga Korban Kebakaran di Panti Wreda Masalah Mata, Duet Marwan/Aisyah Dipastikan Absen dari Indonesia Masters 2026 Apkasindo: Perkuat Sektor Hulu Jadi Kunci Percepatan Hilirisasi Sawit BBKSDA Jawa Timur dan Mahasiswa Lakukan Pengamatan Burung Migrasi di Tulungagung

Humaniora

Mencegah Penyebaran Paparan Ideologi Kekerasan pada Anak: Temuan Densus 88 dan Tantangannya

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Temuan Densus 88 dan Urgensi Perlindungan Anak

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap adanya 70 anak yang teridentifikasi mengalami paparan terhadap ideologi kekerasan. Angka ini menimbulkan kekhawatiran terkait potensi meluasnya pengaruh ideologi tersebut pada kelompok usia rentan.

Risiko dan Dampak Paparan pada Anak

Paparan ideologi yang mendorong kekerasan pada anak-anak berpotensi mengganggu perkembangan emosional, sosial, dan pendidikan mereka. Anak yang terekspos dapat menghadapi stigma, kesulitan integrasi sosial, dan berisiko terlibat dalam tindakan yang berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Upaya Pencegahan: Prinsip Umum

Menangkal meluasnya paparan ideologi kekerasan pada anak membutuhkan pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan. Beberapa prinsip umum yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Deteksi dini: Identifikasi anak yang terekspos ideologi berbahaya sedini mungkin untuk memberikan intervensi yang tepat.
  • Perlindungan dan perlakuan berbasis kebutuhan anak: Pastikan intervensi mempertimbangkan kesejahteraan psikologis, fisik, dan pendidikan anak.
  • Pendidikan dan literasi: Meningkatkan kemampuan anak, keluarga, dan pendidik dalam mengenali tanda-tanda radikalisasi serta memahami bahaya ideologi kekerasan.
  • Kolaborasi lintas sektor: Penanganan harus melibatkan keluarga, sekolah, aparat penegak hukum, lembaga kesejahteraan anak, serta komunitas setempat.
  • Pencegahan daring: Mengingat peran platform digital dalam penyebaran konten ekstrem, promosi literasi digital dan pengawasan konten yang sesuai diperlukan.

Peran Keluarga dan Sekolah

Keluarga dan lingkungan pendidikan memegang peranan penting sebagai garis depan perlindungan. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, pengawasan yang proporsional terhadap aktivitas online, serta pendidikan karakter di sekolah dapat mengurangi kerentanan anak terhadap pengaruh ideologi kekerasan.

Pentingnya Intervensi yang Sensitif terhadap Anak

Intervensi yang difokuskan pada anak harus mengedepankan pendekatan non-stigmatis, berorientasi pada rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Pendampingan psikologis, akses kembali ke pendidikan, dan dukungan sosial menjadi komponen utama agar anak dapat pulih dari paparan tersebut tanpa terisolasi dari masyarakat.

Perlu Pendekatan Berkelanjutan

Mencegah penyebaran ideologi kekerasan bukan tugas satu pihak saja. Dibutuhkan strategi jangka panjang yang menggabungkan pencegahan, deteksi, rehabilitasi, dan penguatan kapasitas masyarakat untuk menahan masuknya ideologi berbahaya. Keberhasilan upaya ini bergantung pada koordinasi, sumber daya yang memadai, serta kepedulian bersama terhadap hak dan kesejahteraan anak.

Gambar: Ilustrasi terkait temuan yang dirilis oleh Densus 88.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mendukbangga: Program Makan Bergizi Berperan Turunkan Stunting di Jawa Barat

12 Januari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Dosen Sekolah Vokasi Undip Anggun Puspitarini Siswanto Raih Penghargaan dari Kampus di Jerman

12 Januari 2026 - 09:30 WIB

ANTARA News

Menteri PPPA Sampaikan Dukacita atas Meninggalnya Ibu dan Balita di Kebumen

11 Januari 2026 - 14:00 WIB

ANTARA News

Makam Kerajaan Ungkap Koleksi Satwa Langka Tertua di China

11 Januari 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Situbondo Bersiap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35: Serangkaian Persiapan Dilakukan

11 Januari 2026 - 12:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora