Satpol PP Jaksel Akan Bongkar Lapangan Padel Tak Berizin di Cilandak Gubernur: Beberapa Program Pusat Sudah Berjalan di Rejang Lebong IRGC Konfirmasi Peluncuran Gelombang Pertama Serangan Roket ke Israel Indonesia dan Mimpi Kolektif Negara D-8: Menopang Harap dari Posisi Menunggu BI: Kapasitas Penyaluran Kredit Masih Longgar, Didorong untuk Percepat Pertumbuhan Pengamat Dorong Tetap Dibukanya Opsi Transit Saat Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik

Humaniora

Mencegah Penyebaran Paparan Ideologi Kekerasan pada Anak: Temuan Densus 88 dan Tantangannya

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Temuan Densus 88 dan Urgensi Perlindungan Anak

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap adanya 70 anak yang teridentifikasi mengalami paparan terhadap ideologi kekerasan. Angka ini menimbulkan kekhawatiran terkait potensi meluasnya pengaruh ideologi tersebut pada kelompok usia rentan.

Risiko dan Dampak Paparan pada Anak

Paparan ideologi yang mendorong kekerasan pada anak-anak berpotensi mengganggu perkembangan emosional, sosial, dan pendidikan mereka. Anak yang terekspos dapat menghadapi stigma, kesulitan integrasi sosial, dan berisiko terlibat dalam tindakan yang berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Upaya Pencegahan: Prinsip Umum

Menangkal meluasnya paparan ideologi kekerasan pada anak membutuhkan pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan. Beberapa prinsip umum yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Deteksi dini: Identifikasi anak yang terekspos ideologi berbahaya sedini mungkin untuk memberikan intervensi yang tepat.
  • Perlindungan dan perlakuan berbasis kebutuhan anak: Pastikan intervensi mempertimbangkan kesejahteraan psikologis, fisik, dan pendidikan anak.
  • Pendidikan dan literasi: Meningkatkan kemampuan anak, keluarga, dan pendidik dalam mengenali tanda-tanda radikalisasi serta memahami bahaya ideologi kekerasan.
  • Kolaborasi lintas sektor: Penanganan harus melibatkan keluarga, sekolah, aparat penegak hukum, lembaga kesejahteraan anak, serta komunitas setempat.
  • Pencegahan daring: Mengingat peran platform digital dalam penyebaran konten ekstrem, promosi literasi digital dan pengawasan konten yang sesuai diperlukan.

Peran Keluarga dan Sekolah

Keluarga dan lingkungan pendidikan memegang peranan penting sebagai garis depan perlindungan. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, pengawasan yang proporsional terhadap aktivitas online, serta pendidikan karakter di sekolah dapat mengurangi kerentanan anak terhadap pengaruh ideologi kekerasan.

Pentingnya Intervensi yang Sensitif terhadap Anak

Intervensi yang difokuskan pada anak harus mengedepankan pendekatan non-stigmatis, berorientasi pada rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Pendampingan psikologis, akses kembali ke pendidikan, dan dukungan sosial menjadi komponen utama agar anak dapat pulih dari paparan tersebut tanpa terisolasi dari masyarakat.

Perlu Pendekatan Berkelanjutan

Mencegah penyebaran ideologi kekerasan bukan tugas satu pihak saja. Dibutuhkan strategi jangka panjang yang menggabungkan pencegahan, deteksi, rehabilitasi, dan penguatan kapasitas masyarakat untuk menahan masuknya ideologi berbahaya. Keberhasilan upaya ini bergantung pada koordinasi, sumber daya yang memadai, serta kepedulian bersama terhadap hak dan kesejahteraan anak.

Gambar: Ilustrasi terkait temuan yang dirilis oleh Densus 88.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Polres Temanggung Ajak Murid TK Kunjungi Panti, Tekankan Pentingnya Empati Sejak Dini

27 Februari 2026 - 16:00 WIB

ANTARA News

Cahaya 1.008 Dipa dan Irama Damaru Mewarnai Malam di Candi Prambanan

27 Februari 2026 - 11:00 WIB

ANTARA News

Kemendikdasmen dan BPS Bersinergi Perkuat Ketepatan Data Pendidikan

27 Februari 2026 - 08:30 WIB

ANTARA News

Kemensos Perkuat Manajemen Guru Sekolah Rakyat Lewat Pelatihan

26 Februari 2026 - 19:30 WIB

ANTARA News

Human Initiative Buka Kembali Program “Qurban Early Bird” untuk Memperluas Jangkauan

26 Februari 2026 - 09:30 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora