Sekretaris Komisi C DPRD DKI Jakarta, Ismail, mengingatkan bahwa program revitalisasi pasar rakyat di ibu kota tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai agenda berkala yang hanya menyentuh permukaan masalah.
Revitalisasi harus menyasar keberlanjutan dan partisipasi
Menurut Ismail, upaya pembaruan fasilitas pasar perlu dirancang agar memberi dampak jangka panjang bagi pedagang dan pembeli. Revitalisasi yang hanya menitikberatkan perbaikan fisik tanpa memikirkan aspek pemeliharaan, tata kelola, dan kelangsungan ekonomi para pelaku usaha pasar, kata dia, berisiko gagal memenuhi tujuan yang diharapkan.
Dia menekankan pentingnya melibatkan para pedagang, pengelola pasar, dan komunitas setempat sejak tahap perencanaan. Keterlibatan pihak-pihak ini dinilai krusial untuk memastikan desain, fasilitas, dan aturan operasi pasar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna serta mengurangi potensi konflik pasca-revitalisasi.
Perencanaan, pemeliharaan, dan evaluasi
Ismail mendorong agar setiap program revitalisasi dilengkapi rencana pemeliharaan yang jelas sehingga fasilitas yang telah diperbaiki tetap dalam kondisi baik dan aman untuk digunakan. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya evaluasi berkala untuk mengukur efektivitas intervensi, baik dari sisi pelayanan terhadap publik maupun kesejahteraan pedagang kecil.
Tanpa mekanisme evaluasi yang memadai, kata Ismail, sulit mengetahui apakah upaya revitalisasi benar-benar memperbaiki kondisi pasar atau hanya memberikan perbaikan temporer yang cepat menurun kualitasnya.
Transparansi dan koordinasi lintas pihak
Ismail juga menyinggung perlunya transparansi dalam proses perencanaan dan penggunaan anggaran revitalisasi. Menurutnya, keterbukaan informasi dapat meningkatkan akuntabilitas dan mengurangi potensi penyalahgunaan dana. Selain itu, koordinasi yang baik antara instansi pemerintahan terkait, pengelola pasar, dan perwakilan pedagang disebutnya sebagai kunci untuk pelaksanaan yang efektif.
Dengan koordinasi yang terjalin, berbagai kebutuhan teknis dan sosial dapat ditangani secara komprehensif, termasuk aspek aksesibilitas, kebersihan, kesesuaian tata niaga, serta aspek keselamatan kebakaran dan sanitasi.
Perlindungan dan pemberdayaan pedagang
Ismail menyoroti bahwa revitalisasi idealnya tidak hanya menyentuh infrastruktur tetapi juga ikut memperkuat posisi pedagang kecil, misalnya melalui pelatihan manajemen usaha, fasilitasi akses permodalan atau mekanisme transisi yang adil saat lokasi pasar direvitalisasi. Upaya-upaya semacam ini dianggap penting agar pembaruan fisik pasar berdampak positif terhadap penghidupan para pedagang.
Dia mengingatkan bahwa tanpa perhatian pada aspek sosial-ekonomi, pembaruan pasar berisiko menggusur atau melemahkan kelompok pedagang yang rentan.
Ismail mengajak semua pihak untuk menjadikan program revitalisasi sebagai proses yang terencana, transparan, dan partisipatif sehingga pasar rakyat di Jakarta dapat berfungsi lebih baik sebagai pusat ekonomi lokal yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Foto: ANTARA News






