BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Otomotif

Pakar: Penghentian Insentif Berisiko Mendorong Kenaikan Harga Kendaraan Listrik

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Pakar Sebut Penghentian Insentif Bisa Dorong Kenaikan Harga Kendaraan Listrik

Direktur Eksekutif Center for Energy Policy, M. Kholid Syeirazi, memperingatkan bahwa rencana pemerintah untuk tidak melanjutkan kebijakan insentif bagi kendaraan listrik berpotensi menyebabkan lonjakan harga jual kendaraan tersebut. Menurutnya, langkah penghapusan atau penghentian dukungan fiskal di tengah proses transisi pasar bisa menimbulkan dampak negatif bagi konsumen dan produsen.

Syeirazi menjelaskan bahwa insentif berperan penting dalam membantu menekan harga di tahap awal pengembangan pasar kendaraan listrik. Tanpa adanya dukungan pemerintah, biaya produksi dan harga ritel diperkirakan akan kembali meningkat sehingga daya tarik kendaraan listrik bagi konsumen menjadi berkurang.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberlanjutan kebijakan insentif bukan hanya soal harga semata, melainkan juga sebagai sinyal kepastian bagi pelaku industri otomotif. Kepastian kebijakan dianggap penting untuk mendorong investasi, memperluas kapasitas produksi, serta menumbuhkan ekosistem pendukung seperti jaringan pengisian daya dan pasokan komponen.

Hilangnya insentif, menurut Syeirazi, berpotensi memperlambat laju adopsi kendaraan listrik di pasar domestik. Penurunan permintaan pada gilirannya dapat menghambat pencapaian skala ekonomi bagi produsen, sehingga upaya menurunkan biaya produksi jangka panjang menjadi lebih sulit.

Di sisi konsumen, efek pencabutan insentif diperkirakan langsung terasa pada harga akhir yang harus dibayar. Konsumen yang sensitif terhadap harga mungkin memilih menunda pembelian atau tetap menggunakan kendaraan konvensional yang biayanya relatif stabil. Kondisi ini dikhawatirkan membuat target peralihan ke kendaraan rendah emisi sulit tercapai.

Syeirazi juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dukungan fiskal yang bersifat sementara dan perencanaan jangka panjang. Ia menyarankan agar kebijakan insentif dirancang dengan horizon waktu yang jelas dan diiringi langkah-langkah untuk memperkuat industri lokal sehingga ketergantungan pada subsidi dapat dikurangi secara bertahap.

Selain insentif fiskal, pembentukan kebijakan yang terintegrasi—termasuk pengembangan infrastruktur pengisian daya, regulasi yang mendukung, serta program edukasi konsumen—dinilai perlu untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik. Langkah-langkah tersebut dinilai penting agar adopsi kendaraan listrik berjalan berkelanjutan meski dukungan langsung berupa insentif nantinya dikurangi.

Secara keseluruhan, pernyataan Syeirazi mencerminkan kekhawatiran para pengamat bahwa perubahan kebijakan secara mendadak dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi dan pasar yang signifikan. Ia menekankan perlunya pendekatan bertahap dan koordinasi antar-pemangku kepentingan untuk memastikan transisi menuju transportasi rendah emisi tidak terganggu.

Gambar terkait:

Pengisian daya mobil listrik di SPKLU

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menjelang Musim Mudik, Bengkel Mobil di Cimahi Dipadati Pelanggan

5 Maret 2026 - 14:30 WIB

ANTARA News

Nissan Navara PRO-4X Bikin Dampak Positif di IIMS 2026

5 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Hyundai Tambahkan Tema Pokémon pada Sistem Infotainment dan Panel Digital

2 Maret 2026 - 12:31 WIB

ANTARA News

Langkah Efektif Menghilangkan Jamur pada Cat Mobil

1 Maret 2026 - 21:30 WIB

ANTARA News

Toyota Perbarui Yaris dan Yaris Cross 2026 dengan Peningkatan Teknologi

28 Februari 2026 - 15:00 WIB

ANTARA News
Trending di Otomotif