BPK: Pemeriksaan Laporan Keuangan Sebagai Penjaga Marwah Negara Polda Metro Jaya Kerahkan Ratusan Personel untuk Pengamanan Jelang Imlek 2026 Grebeg Sudiro: Wajah Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa di Solo Sebelum Ramadhan 1447 H, Rampungkan 1.200 Hunian Sementara untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh hingga Sumbar Ditpolairud Polda Banten Gelar Aksi Bersih-bersih Pantai Anyer Dukung Kampanye “Indonesia Asri” Mekanik Perkeretaapian Sibuk Tingkatkan Perawatan Kereta Saat Arus Mudik Imlek

Dunia

China Perkirakan Arus Mudik Imlek Akan Menembus Rekor, NDRC Sampaikan Perkiraan

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Prediksi Rekor Perjalanan Saat Mudik Imlek

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (National Development and Reform Commission/NDRC) pada Kamis, 29 Januari, menyampaikan perkiraan bahwa jumlah perjalanan terkait mudik Tahun Baru Imlek tahun ini akan mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pernyataan itu menegaskan ekspektasi adanya lonjakan mobilitas warga nasional selama periode pergantian tahun.

Pemberitahuan dari NDRC itu menyoroti besarnya skala pergerakan masyarakat yang biasa terjadi pada musim Imlek. Setiap tahun, tradisi pulang kampung menjadi momen penting bagi jutaan warga Tiongkok yang kembali bertemu keluarga, sehingga aktivitas transportasi baik darat, laut maupun udara umumnya meningkat tajam selama periode tersebut.

Signifikansi bagi Sistem Transportasi

Perkiraan rekor perjalanan ini mengindikasikan tekanan tambahan terhadap infrastruktur transportasi negara. Layanan kereta api, maskapai penerbangan, layanan bus antarkota, serta fasilitas terminal diperkirakan menjadi fokus perhatian banyak pihak seiring meningkatnya permintaan perjalanan.

Saat arus penumpang memuncak, koordinasi antarlembaga dan kesiapan operator menjadi hal penting untuk menjaga kelancaran mobilitas. Persiapan teknis dan manajemen lalu lintas di pintu masuk kota, stasiun, serta bandara biasanya diperlukan untuk mengantisipasi kepadatan yang tinggi.

Aspek Sosial dan Ekonomi

Pergerakan massal selama Imlek tidak hanya memiliki dampak pada sektor transportasi, tetapi juga pada perekonomian lokal. Peningkatan mobilitas mendorong aktivitas di sektor jasa, perhotelan, dan ritel di berbagai daerah tujuan. Bagi banyak keluarga, tradisi mudik juga membawa nilai sosial dan kultural yang kuat, karena menjadi momen berkumpul dan merayakan bersama.

Di sisi lain, lonjakan perjalanan pada periode ini dapat memunculkan tantangan tersendiri, termasuk kebutuhan peningkatan layanan publik dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan serta infrastruktur terkait untuk merespons lonjakan populasi sementara di sejumlah daerah.

Konteks dan Harapan

Pernyataan NDRC pada 29 Januari ini memberikan sinyal awal bagi otoritas lokal, operator transportasi, dan masyarakat luas untuk mempersiapkan diri menghadapi peningkatan aktivitas perjalanan. Pengumuman tersebut menjadi acuan bagi berbagai pihak dalam menyusun strategi operasional selama musim Imlek.

Masyarakat yang berencana melakukan perjalanan diimbau untuk memantau informasi resmi terkait jadwal layanan dan aturan setempat, serta menyesuaikan rencana perjalanan demi mengurangi potensi hambatan selama periode sibuk ini.

Gambar terkait:

Ilustrasi arus mudik Imlek

Informasi yang disampaikan oleh NDRC ini merupakan bagian dari perhatian berkelanjutan terhadap dinamika mobilitas penduduk saat perayaan besar nasional, yang dampaknya dirasakan luas baik dari sisi sosial maupun ekonomi.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Arab Saudi: Gencatan Senjata di Gaza Harus Berujung pada Pembentukan Negara Palestina

15 Februari 2026 - 17:00 WIB

ANTARA News

Zelensky Nyatakan Kesiapan Ukraina untuk Kesepakatan yang Menjamin Perdamaian Nyata

15 Februari 2026 - 10:30 WIB

ANTARA News

Menlu Palestina Mendesak Jerman dan Finlandia Akui Negara Palestina

15 Februari 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Duta Besar Iran Minta Indonesia Tak Khawatir soal Ancaman Tarif AS

14 Februari 2026 - 21:00 WIB

ANTARA News

Delcy Rodríguez Tegaskan Kepemimpinan Venezuela: ‘Saya Pemimpin, Bukan AS’

13 Februari 2026 - 17:30 WIB

ANTARA News
Trending di Dunia