BBKSDA: Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo Wafat Akibat Virus Panleukopenia Mentan Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Menghadapi El Nino Godzilla Puncak Gelombang Kedua Arus Balik di Terminal Kampung Rambutan Diperkirakan Terjadi Minggu Jalan Kayu Mas Utara di Pulogadung Amblas, Mobilitas Pengendara Terganggu Sejak Lebaran Kesepakatan Inggris-Prancis 2023 Dikaitkan dengan Peningkatan Kematian Migran di Selat Inggris Dari Sampah Jadi Harapan: SATURUMA dan Pandawara Luncurkan Program CSR untuk Lingkungan

Humaniora

Dokter Kulit Ingatkan Hati-hati Saat Membeli Pakaian Bekas: Risiko Penularan Infeksi

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Jakarta – Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat menggunakan pakaian bekas atau membeli barang melalui praktik thrifting. Menurutnya, penggunaan pakaian second-hand berpotensi membawa risiko penularan infeksi kulit jika tidak ditangani dengan benar.

Tren thrifting yang kian populer di kalangan berbagai usia memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, namun juga menuntut kewaspadaan dari konsumen. dr. Fitria mengingatkan bahwa pakaian yang pernah dipakai orang lain dapat terkontaminasi oleh berbagai mikroorganisme atau kondisi kulit yang menular, sehingga perlu sikap selektif dan langkah pencegahan sebelum dikenakan.

Perlunya Pemeriksaan dan Kebersihan

Dalam konteks ini, pemeriksaan visual terhadap kondisi pakaian menjadi langkah awal yang penting. Periksa adanya noda, bau tak biasa, atau kerusakan yang mungkin menunjukkan pakaian disimpan dalam kondisi tidak higienis. Jika ragu, sebaiknya pakaian tersebut dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

dr. Fitria menekankan pentingnya kesadaran pribadi saat memilih dan menggunakan barang bekas. Konsumen dianjurkan untuk mempertimbangkan jenis pakaian yang dibeli — beberapa jenis pakaian yang bersentuhan langsung dengan area tubuh sensitif memerlukan kehati-hatian lebih besar.

Sikap Selektif dan Bijak

Selain langkah kebersihan, keputusan membeli juga harus dilakukan secara selektif. Memilih penjual terpercaya, mengecek reputasi toko atau platform thrifting, serta memperhatikan cara penyimpanan barang di tempat penjualan dapat membantu mengurangi risiko. Bila menemukan tanda-tanda pakaian yang tampak lembap atau disimpan sembarangan, sebaiknya menolak pembelian.

Penting pula bagi konsumen untuk memahami bahwa meskipun pakaian bekas menawarkan harga terjangkau dan nilai estetika, aspek kesehatan tidak boleh diabaikan. Kesadaran ini akan membantu menjaga keselamatan pemakai sekaligus mendukung praktik thrifting yang bertanggung jawab.

Pesan Penutup

dr. Fitria mengajak masyarakat untuk tetap menikmati manfaat thrifting namun secara bersamaan menerapkan kehati-hatian. Dengan langkah sederhana seperti memeriksa kondisi pakaian dan memastikan kebersihan sebelum dipakai, konsumen dapat meminimalkan risiko yang mungkin timbul dari penggunaan pakaian bekas.

Tren pakaian bekas tetap dapat menjadi pilihan yang baik jika dilaksanakan dengan cara yang aman dan terinformasi.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Program Makan Bergizi Gratis Kini Menjangkau Lansia dan Penyandang Disabilitas

24 Maret 2026 - 09:00 WIB

ANTARA News

Makna Hari Raya dalam Memperkuat Fungsi Keluarga

23 Maret 2026 - 19:00 WIB

ANTARA News

Lebaran dan Kewajiban untuk Bahagia: Antara Tradisi dan Harapan

23 Maret 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan untuk Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 1

22 Maret 2026 - 08:00 WIB

ANTARA News

Dubes RI untuk Thailand Tekankan Persatuan dan Silaturahmi pada Perayaan Idul Fitri 1447 H

21 Maret 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora