KLH Tetapkan Dua Desa di Kutai Kertanegara Sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam Pemkab Pati Klaim Keberhasilan Program Panen Padi 10 Ton per Hektare Mempawah Ubah Sampah Plastik Menjadi Jumputan Padat sebagai Bahan Bakar Ribuan Suporter ‘Merahkan’ Indonesia Arena Menjelang Final Timnas TNI Selesaikan Pembangunan Jembatan Armco di Tapanuli Tengah, Akses Warga Kembali Pulih Muslim Life Fair Bekasi 2026 Hadirkan Ragam Aktivitas untuk Umat Muslim

Humaniora

Dokter Kulit Ingatkan Hati-hati Saat Membeli Pakaian Bekas: Risiko Penularan Infeksi

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Jakarta – Dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat menggunakan pakaian bekas atau membeli barang melalui praktik thrifting. Menurutnya, penggunaan pakaian second-hand berpotensi membawa risiko penularan infeksi kulit jika tidak ditangani dengan benar.

Tren thrifting yang kian populer di kalangan berbagai usia memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, namun juga menuntut kewaspadaan dari konsumen. dr. Fitria mengingatkan bahwa pakaian yang pernah dipakai orang lain dapat terkontaminasi oleh berbagai mikroorganisme atau kondisi kulit yang menular, sehingga perlu sikap selektif dan langkah pencegahan sebelum dikenakan.

Perlunya Pemeriksaan dan Kebersihan

Dalam konteks ini, pemeriksaan visual terhadap kondisi pakaian menjadi langkah awal yang penting. Periksa adanya noda, bau tak biasa, atau kerusakan yang mungkin menunjukkan pakaian disimpan dalam kondisi tidak higienis. Jika ragu, sebaiknya pakaian tersebut dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

dr. Fitria menekankan pentingnya kesadaran pribadi saat memilih dan menggunakan barang bekas. Konsumen dianjurkan untuk mempertimbangkan jenis pakaian yang dibeli — beberapa jenis pakaian yang bersentuhan langsung dengan area tubuh sensitif memerlukan kehati-hatian lebih besar.

Sikap Selektif dan Bijak

Selain langkah kebersihan, keputusan membeli juga harus dilakukan secara selektif. Memilih penjual terpercaya, mengecek reputasi toko atau platform thrifting, serta memperhatikan cara penyimpanan barang di tempat penjualan dapat membantu mengurangi risiko. Bila menemukan tanda-tanda pakaian yang tampak lembap atau disimpan sembarangan, sebaiknya menolak pembelian.

Penting pula bagi konsumen untuk memahami bahwa meskipun pakaian bekas menawarkan harga terjangkau dan nilai estetika, aspek kesehatan tidak boleh diabaikan. Kesadaran ini akan membantu menjaga keselamatan pemakai sekaligus mendukung praktik thrifting yang bertanggung jawab.

Pesan Penutup

dr. Fitria mengajak masyarakat untuk tetap menikmati manfaat thrifting namun secara bersamaan menerapkan kehati-hatian. Dengan langkah sederhana seperti memeriksa kondisi pakaian dan memastikan kebersihan sebelum dipakai, konsumen dapat meminimalkan risiko yang mungkin timbul dari penggunaan pakaian bekas.

Tren pakaian bekas tetap dapat menjadi pilihan yang baik jika dilaksanakan dengan cara yang aman dan terinformasi.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wamendes Ajak Pendamping, Kepala Desa, dan Warga Ikut Gerakan Indonesia ASRI

7 Februari 2026 - 10:00 WIB

ANTARA News

Menag: Tasawuf sebagai Kunci Menjaga Masa Depan Bumi

6 Februari 2026 - 20:30 WIB

ANTARA News

FAKTA: Penonaktifan Kepesertaan BPJS Kesehatan PBI Dinilai Mengancam Nyawa Pasien Gagal Ginjal

6 Februari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

IDAI: Indonesia Masih Butuh Sekitar 400 Konsultan Jantung Anak

6 Februari 2026 - 18:30 WIB

ANTARA News

Kemenhaj Apresiasi Pelunasan Bipih di Sumbar Capai 107 Persen Meski Terkena Bencana

6 Februari 2026 - 15:30 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora