Jogja — Digna Niken Purwaningrum, akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengusulkan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah diselenggarakan tidak setiap hari, melainkan hanya 1–2 hari dalam seminggu. Saran ini ditujukan sebagai alternatif pelaksanaan program agar ada kombinasi antara layanan sekolah dan peran keluarga dalam penyediaan makanan bagi anak.
Inti Rekomendasi
Saran Digna menekankan pelaksanaan MBG dalam frekuensi terbatas di sekolah. Dengan skema seperti itu, anak-anak menerima makanan bergizi dari sekolah pada sejumlah hari tertentu, sementara pada hari-hari lain mereka diharapkan membawa bekal dari rumah.
Membuka Diskusi Pelaksanaan MBG
Rekomendasi ini memicu perbincangan mengenai model pelaksanaan program makan bergizi untuk peserta didik. Pilihan mengombinasikan layanan sekolah dan bekal rumah membuka ruang bagi kajian terkait bagaimana program diselenggarakan secara praktis, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan sekolah serta keluarga.
Aspek yang Perlu Dipertimbangkan
Saran tentang pemberian MBG pada satu atau dua hari per minggu juga menyoroti sejumlah aspek yang sering menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan program makan di sekolah. Di antaranya adalah bagaimana memastikan nutrisi yang diberikan sesuai dengan standar gizi, bagaimana peran keluarga dalam menyiapkan bekal, serta bagaimana menjaga kesinambungan program agar dapat memberikan manfaat bagi anak-anak.
Peran Sekolah dan Keluarga
Model kombinasi antara layanan MBG yang diselenggarakan sekolah dengan bekal yang dibawa dari rumah menempatkan tanggung jawab pada kedua pihak: sekolah sebagai penyelenggara hari-hari tertentu, dan keluarga sebagai penyedia makanan pada hari lainnya. Pendekatan semacam ini berpotensi menguatkan keterlibatan orang tua dalam pola makan anak sekaligus menjaga akses terhadap makanan bergizi yang disediakan oleh sekolah.
Pentingnya Kajian Lebih Lanjut
Usulan untuk membatasi hari pelaksanaan MBG ke 1–2 hari mendorong perlunya kajian lebih mendalam mengenai efektivitas skema tersebut. Evaluasi akan membantu memahami implikasi bagi pemenuhan kebutuhan gizi anak, dinamika keluarga, serta kelangsungan program di berbagai konteks sekolah.
Gambaran yang diajukan oleh Digna Niken Purwaningrum membuka ruang bagi dialog antara pembuat kebijakan, penyelenggara pendidikan, tenaga kesehatan, dan keluarga. Diskusi yang komprehensif diperlukan agar setiap kebijakan terkait program makan di sekolah dapat dirancang dengan mempertimbangkan aspek nutrisi, operasional, dan keberlanjutan.
Foto: ANTARA News






