BRIN Tegaskan Pentingnya Konsep Risiko Sisa dalam Pengendalian Banjir Jakarta
Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan pemaparan mengenai konsep risiko sisa dalam konteks penanganan banjir di Jakarta. Penjelasan tersebut menyoroti bahwa upaya pengendalian banjir tidak hanya berkutat pada langkah-langkah teknis semata, tetapi juga perlu memahami bahwa beberapa risiko tetap ada meskipun sudah dilakukan berbagai intervensi.
Apa itu risiko sisa?
Secara umum, risiko sisa merujuk pada potensi kerugian atau dampak yang masih tersisa setelah serangkaian tindakan mitigasi dilaksanakan. Dalam konteks pengendalian banjir, hal ini berarti meskipun telah diterapkan strategi pencegahan, pengurangan, atau pengelolaan air, ada kemungkinan terjadinya kejadian yang tetap berdampak pada wilayah terdampak. Pendekatan ini mendorong perencanaan yang melihat bukan hanya upaya mengurangi frekuensi atau besaran banjir, tetapi juga bagaimana mengelola konsekuensi yang tidak sepenuhnya dapat dihilangkan.
Implikasi bagi pengelolaan banjir
Pemaparan BRIN menekankan bahwa memahami risiko sisa penting untuk menyusun kebijakan dan praktik yang lebih realistis. Pendekatan berbasis risiko sisa mengarahkan pada beberapa hal, antara lain: penguatan kapasitas respons darurat, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, penilaian berkelanjutan terhadap efektivitas langkah-langkah teknis, serta integrasi antara upaya mitigasi dan adaptasi. Dengan demikian, perencanaan pengendalian banjir tidak hanya berfokus pada pengurangan kemungkinan kejadian, tetapi juga pada upaya meminimalkan dampak ketika banjir terjadi.
Peran penelitian dan pemangku kepentingan
Dalam pemaparan tersebut, lembaga riset seperti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air berperan dalam memberikan kerangka analitis dan bukti ilmiah untuk memahami dinamika air dan risiko banjir. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi pembuat kebijakan dan perencana kota dalam merancang intervensi yang lebih efektif. Selain itu, konsep risiko sisa mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, instansi teknis, hingga masyarakat, untuk saling berkoordinasi dalam pengurangan dampak.
Menuju pengelolaan yang lebih adaptif
Penerapan konsep risiko sisa menuntut pendekatan yang adaptif dan berkelanjutan. Perubahan kondisi lingkungan, pola pemanfaatan ruang, serta faktor sosial-ekonomi membuat kebutuhan perencanaan yang fleksibel semakin penting. Dengan mengakui adanya risiko yang tak sepenuhnya dapat dieliminasi, pembuat kebijakan dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih strategis, meningkatkan sistem peringatan dini, serta memperkuat mekanisme pemulihan pasca-banjir.
Pemaparan BRIN mengenai konsep risiko sisa menambah perspektif yang diperlukan dalam diskusi mengenai pengendalian banjir di Jakarta. Pendekatan ini menekankan bahwa manajemen banjir efektif bukan hanya soal mencegah kejadian, melainkan juga menyiapkan langkah-langkah untuk mengurangi konsekuensi ketika banjir terjadi.
Foto: ANTARA News






