Dari Riuh ke Hening
Sore di Kota Mataram pada pertengahan Maret memancarkan dua nuansa yang saling bertolak belakang. Langit berwarna jingga menjadi latar bagi keramaian yang dipenuhi bunyi tabuhan dan sorak, sebuah pawai ogoh-ogoh yang menyemarakkan jalan-jalan kota. Suasana riuh ini menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian acara menjelang hari yang kemudian ditandai oleh keheningan.
Pawai dan Atmosfer Kota
Pawai ogoh-ogoh membentuk pemandangan yang penuh gerak: rangkaian patung atau ornamen yang dibawa beriringan, diiringi musik dan tepuk tangan warga. Gerak langkah, warna, serta suara menciptakan suasana kolektif di mana banyak orang berkumpul untuk melihat atau ikut meramaikan. Di sore hari, matahari yang merendah menambah dramatisasi visual pawai, sementara bunyi-bunyi ritmis memberi energi tersendiri bagi peserta dan penonton.
Partisipasi Warga
Kerumunan terlihat dari berbagai lapisan usia. Anak-anak mengikuti jejak orang dewasa dengan antusias, sedangkan sebagian orang terekam diam menikmati pertunjukan. Kehadiran warga memperkuat nuansa komunitas, karena momen ini menjadi waktu berkumpul yang melibatkan banyak pihak—baik yang secara aktif membawa arak-arakan maupun yang datang untuk menyaksikan.
Kontras Menuju Keheningan
Di tengah kesibukan itu, ada kesadaran bahwa riuh ini sementara. Setelah pawai dan pergantian malam, suasana akan berbalik sunyi. Kontras antara keriuhan sore dan keheningan yang mengikuti memberi ritme emosional tersendiri: euforia sementara yang kemudian mereda menjadi upaya refleksi dan ketenangan. Peralihan ini bukan sekadar perubahan suara, melainkan juga perubahan suasana batin kolektif di kota.
Ritual dan Makna Bersama
Bagi banyak orang, pawai menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian acara yang lebih luas. Kegiatan semacam ini menyatukan wujud ekspresi seni, kerja komunitas, dan tradisi perjalanan bersama. Ketika keriuhan mereda, kota memasuki fase yang berbeda yang ditandai suasana lebih tenang—sebuah penutup sementara atas hiruk-pikuk yang baru saja berlangsung.
Pengamatan Visual
Di sela-sela taburan cahaya sore, warna-warna dari ornamen pawai kontras dengan langit yang memudar. Foto-foto yang diambil pada momen tersebut menangkap perpaduan visual antara gerak manusia dan bentuk-bentuk yang dibawa. Gambaran ini mencerminkan bagaimana tradisi tetap berinteraksi dengan ruang perkotaan, sehingga kota tidak hanya sebagai latar, tetapi juga turut membentuk pengalaman perayaan.
Ketenangan Sebagai Penutup
Ketika gelap semakin menyelimuti kota dan gema terakhir dari tabuhan lenyap, keheningan mengambil alih. Sunyi yang lahir dari riuh tersebut menjadi penutup yang kontras namun selaras, menandai berakhirnya rangkaian malam itu. Bagi warga yang menyaksikan, transisi ini mengingatkan pada ritme tahunan yang menggabungkan ekspresi kolektif dan momen-momen hening bersama.
Foto: Pawai ogoh-ogoh di Kota Mataram yang berlangsung pada sore hari, memperlihatkan suasana riuh yang kemudian memberi jalan pada keheningan.
Foto: ANTARA News






