Diplomasi Jembatan: Indonesia di Panggung Dunia
Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai bahwa gaya diplomasi Presiden Prabowo yang digambarkan sebagai “bridge-builder” telah menempatkan Indonesia pada perhatian global. Pendekatan ini dianggap mendorong posisi Indonesia sebagai penghubung atau penengah dalam dinamika hubungan antarnegara.
Interpretasi ‘bridge-builder’
Istilah “bridge-builder” yang dipakai untuk menggambarkan langkah diplomasi tersebut merujuk pada kemampuan membangun jalur komunikasi, menjembatani perbedaan kepentingan, serta mencari titik temu antara pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda. Menurut Rezasyah, gaya semacam ini dapat meningkatkan kredibilitas Indonesia di kancah internasional dan memperluas ruang diplomasi negara.
Dalam konteks politik luar negeri, pendekatan yang berfokus pada peran sebagai penghubung biasanya menuntut keterampilan negosiasi, kapasitas diplomatik yang adaptif, serta kepercayaan dari aktor internasional. Gaya diplomasi seperti ini memungkinkan sebuah negara tampil sebagai fasilitator dialog yang dihormati oleh berbagai pihak.
Konsekuensi bagi posisi Indonesia
Jika diterjemahkan dalam kebijakan luar negeri, posisi sebagai “bridge-builder” berpotensi meningkatkan perhatian dan ekspektasi dunia terhadap peran Indonesia. Ini mencakup harapan agar negara memainkan peran konstruktif dalam menyelesaikan sengketa, meredam ketegangan, atau menjadi tuan rumah pembicaraan multilateral.
Rezasyah menyoroti bahwa sorotan internasional bukan sekadar soal popularitas, melainkan juga peluang bagi Indonesia untuk memperkuat dialog diplomatik, membangun jaringan kerjasama baru, dan menegaskan kontribusi terhadap isu-isu global. Namun, pendekatan semacam ini juga menuntut konsistensi kebijakan dan kemampuan menjaga keseimbangan kepentingan regional dan global.
Tantangan dan harapan
Menjadi penghubung antarnegara bukan tanpa tantangan. Diplomasi yang bersifat menjembatani memerlukan kesabaran, strategi komunikasi yang matang, serta kesiapan menghadapi kritik dari pihak yang melihat posisi netral atau aktif dalam pemecahan masalah sebagai sesuatu yang kontroversial. Selain itu, dependensi terhadap kepercayaan para mitra internasional menuntut keberlanjutan tindakan yang sesuai dengan citra yang dibangun.
Rezasyah menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang transparan dan berbasis kepentingan nasional untuk mempertahankan posisi sebagai jembatan. Tanpa konsistensi, ada risiko bahwa sorotan internasional tidak berujung pada dampak jangka panjang bagi pengaruh dan kapabilitas diplomatik Indonesia.
Kesimpulan
Gaya diplomasi “bridge-builder” yang diatributkan kepada Presiden Prabowo menurut pengamat dari Unpad memberikan wajah baru bagi peran Indonesia di mata dunia. Dengan memfokuskan diri pada peran penghubung, Indonesia berpotensi memperoleh ruang diplomasi yang lebih besar, namun sekaligus menghadapi ekspektasi yang menuntut konsistensi dan kapasitas diplomatik yang mumpuni.
Foto: ANTARA News






