Polda Metro Jaya Kerahkan Ratusan Personel untuk Pengamanan Jelang Imlek 2026 Grebeg Sudiro: Wajah Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa di Solo Sebelum Ramadhan 1447 H, Rampungkan 1.200 Hunian Sementara untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh hingga Sumbar Ditpolairud Polda Banten Gelar Aksi Bersih-bersih Pantai Anyer Dukung Kampanye “Indonesia Asri” Mekanik Perkeretaapian Sibuk Tingkatkan Perawatan Kereta Saat Arus Mudik Imlek Kabar Hukum Kemarin: KPK Dalami Dugaan Rangkap Jabatan Mulyono, Penegakan terhadap Oknum Polri Ditegaskan

Humaniora

Grebeg Sudiro: Wajah Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa di Solo

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Grebeg Sudiro: Simbol Perpaduan Budaya di Solo

Perayaan Grebeg Sudiro di Kota Solo kembali menjadi sorotan sebagai salah satu wujud akulturasi antara tradisi Jawa dan Tionghoa. Berbagai kegiatan digelar dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Imlek, menegaskan posisi acara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan juga ruang pertemuan budaya yang melibatkan masyarakat luas.

Ragam aktivitas dan suasana bersama

Kemeriahan yang ditawarkan Grebeg Sudiro mencakup berbagai aktivitas yang ditujukan untuk memeriahkan momen Imlek. Aktivitas tersebut memadukan elemen-elemen tradisi yang menunjukkan interaksi dan saling pengaruh antara dua budaya, yang berlangsung dalam suasana kebersamaan antarwarga.

Pelaksanaan acara ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dan unsur Tionghoa dapat hidup berdampingan, saling melengkapi, dan menjadi bagian dari kehidupan sosial di Solo. Keterlibatan masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi bagian penting dari nuansa perayaan.

Makna sosial dan budaya

Grebeg Sudiro tidak hanya berfungsi sebagai ajang perayaan, melainkan juga sebagai simbol dinamika budaya yang terus berkembang. Acara ini menggambarkan proses akulturasi — ketika elemen-elemen budaya bertemu, berinteraksi, dan membentuk praktik baru yang diterima oleh komunitas setempat.

Dalam konteks sosial, perayaan seperti ini turut memperkuat rasa kebersamaan dan toleransi. Kehadiran tradisi yang berbeda pada satu panggung perayaan menonjolkan nilai saling menghormati dan kebulatan identitas lokal yang inklusif.

Pentingnya pelestarian tradisi

Perayaan yang memadukan unsur Jawa dan Tionghoa juga menjadi sarana pelestarian budaya. Ketika ritual, kesenian, atau tradisi ditampilkan dalam forum publik, generasi muda memiliki kesempatan untuk menyaksikan dan memahami akar budaya setempat. Kesinambungan ini berperan dalam menjaga keunikan budaya Solo dan mengenalkan kekayaan tradisi kepada khalayak yang lebih luas.

Perayaan yang memikat perhatian

Grebeg Sudiro menarik perhatian karena keberadaannya yang merepresentasikan dialog budaya. Momentum perayaan Tahun Baru Imlek memberi kesempatan bagi berbagai pihak untuk berkumpul dan merayakan bersama, sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya dapat berkembang melalui interaksi antarkomunitas.

Pada akhirnya, Grebeg Sudiro menonjol sebagai contoh bagaimana upaya memelihara tradisi sekaligus membuka ruang bagi akulturasi dapat membentuk identitas kebudayaan yang dinamis dan inklusif. Perayaan semacam ini memperlihatkan bahwa keberagaman budaya dapat menjadi sumber kekayaan sosial jika dipelihara dalam semangat saling menghormati.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kirab Budaya Grebeg Sudiro di Pasar Gede Solo: Wajah Akulturasi Jawa–Tionghoa

15 Februari 2026 - 18:00 WIB

ANTARA News

Warga Tapanuli Selatan Gelar Munggahan Menyambut Ramadhan Pasca-Bencana, Baznas Salurkan 10 Sapi

15 Februari 2026 - 13:30 WIB

ANTARA News

Undana dan Saint Louis College Filipina Jalin Kolaborasi Riset Mobilitas Akademik Antarnegara

15 Februari 2026 - 13:00 WIB

ANTARA News

Aerial Lion Dance Memukau di Danau Senayan: Warna dan Gerak Mengisi Perayaan Imlek 2577 Kongzili

14 Februari 2026 - 20:30 WIB

ANTARA News

Menteri Arifah Kecam Keras Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan di Boyolali

14 Februari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora