BPBD Jatim Cepat Perbaiki Peralatan Early Warning System Pasca Banjir BPJS Ketenagakerjaan Dorong Seluruh Mitra Ojol Manfaatkan Potongan Iuran DVI Polda Sulut Identifikasi Tiga Korban Kebakaran di Panti Wreda Masalah Mata, Duet Marwan/Aisyah Dipastikan Absen dari Indonesia Masters 2026 Apkasindo: Perkuat Sektor Hulu Jadi Kunci Percepatan Hilirisasi Sawit BBKSDA Jawa Timur dan Mahasiswa Lakukan Pengamatan Burung Migrasi di Tulungagung

Ekonomi

Kemendag: Kenaikan Suplai Global Tekan Harga Referensi Biji Kakao Januari 2026

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Jakarta — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan harga referensi (HR) untuk biji kakao pada periode Januari 2026 mengalami penurunan. Menurut keterangan yang disampaikan, penurunan ini berkaitan dengan adanya peningkatan suplai di pasar global.

Penyebab penurunan

Kemendag mengaitkan turunnya HR biji kakao dengan kondisi suplai internasional yang lebih tinggi. Kenaikan pasokan di pasar dunia menciptakan tekanan ke bawah pada harga, sehingga harga referensi yang dipublikasikan kementerian turut menurun pada periode tersebut.

Dampak terhadap pelaku usaha

Pergerakan HR biji kakao menjadi indikator penting bagi berbagai pihak, termasuk petani, pedagang, pengolahan industri, dan eksportir. Penurunan harga referensi dapat memengaruhi struktur pendapatan pelaku hulu hingga hilir, dan membuat para pelaku pasar menyesuaikan strategi pengadaan dan penjualan mereka.

Walaupun keterangan resmi menyebutkan faktor penurunan adalah naiknya suplai global, pelaku usaha diperkirakan akan mengikuti perkembangan lebih lanjut di pasar domestik dan internasional untuk menentukan langkah operasional dan komersial.

Peran harga referensi

Harga referensi yang dikeluarkan Kemendag berfungsi sebagai acuan bagi transaksi dan evaluasi kondisi pasar komoditas tertentu, termasuk kakao. Perubahan pada HR mencerminkan dinamika penawaran dan permintaan yang terjadi di tingkat dunia maupun regional.

Pemantauan dan respons kebijakan

Adanya fluktuasi harga komoditas seperti kakao biasanya mendorong berbagai pihak untuk memantau perkembangan secara seksama. Pemerintah dan pelaku industri cenderung mengikuti informasi harga referensi untuk mempertimbangkan kebijakan perdagangan, tata niaga, atau langkah-langkah lain yang relevan dengan stabilisasi pasar.

Dalam situasi di mana suplai global meningkat, respons pasar akan bergantung pada kombinasi faktor seperti permintaan, stok, dan kebijakan perdagangan dari negara-negara penghasil maupun konsumen.

Perhatian terhadap rantai pasokan

Perubahan harga komoditas menggarisbawahi pentingnya pengelolaan rantai pasokan yang efisien. Bagi sektor kakao, hal ini mencakup pengawasan kualitas, pengaturan logistik, serta penyesuaian strategi pemasaran dan ekspor untuk menghadapi kondisi harga yang berubah-ubah.

Sumber visual yang menyertai laporan ini menunjukkan suasana terkait komoditas kakao, namun detail teknis dan angka spesifik mengenai besaran penurunan HR tidak disampaikan dalam rilis singkat yang dikemukakan Kemendag.

Kondisi ke depan

Pergerakan harga komoditas seperti kakao tetap bergantung pada dinamika global. Pihak-pihak terkait di dalam negeri diharapkan memantau perkembangan agar dapat menyesuaikan kebijakan dan praktik usaha mereka sesuai perubahan pasar. Informasi lanjutan mengenai kondisi pasar di periode berikutnya akan menjadi acuan penting bagi pengambilan keputusan.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

BPJS Ketenagakerjaan Dorong Seluruh Mitra Ojol Manfaatkan Potongan Iuran

13 Januari 2026 - 21:00 WIB

ANTARA News

Apkasindo: Perkuat Sektor Hulu Jadi Kunci Percepatan Hilirisasi Sawit

13 Januari 2026 - 19:30 WIB

ANTARA News

Grab Indonesia Salurkan Rp100 Miliar untuk Program Kesejahteraan Mitra

13 Januari 2026 - 18:30 WIB

ANTARA News

Ombudsman RI Salurkan Manfaat Rp42 Miliar Lewat Tahap Resmon pada 2025

13 Januari 2026 - 17:30 WIB

ANTARA News

Bank Lampung Catat Laba Bersih Rp200 Miliar pada 2025

13 Januari 2026 - 14:00 WIB

ANTARA News
Trending di Ekonomi