Memperkuat Fondasi Ketahanan Pangan Menjelang 2026
Tahun 2025 banyak disebut sebagai “Tahun Perberasan Nasional”, sebuah penegasan pentingnya sektor padi dan beras bagi stabilitas pangan dan ekonomi. Menyongsong 2026, perhatian tertuju pada upaya mencegah terjadinya ketergantungan impor beras yang dapat menimbulkan risiko terhadap kedaulatan pangan dan fluktuasi harga.
Fokus pada Peningkatan Produksi dan Produktivitas
Salah satu langkah dasar untuk menghindari jebakan impor adalah meningkatkan produksi dalam negeri. Ini mencakup penerapan praktik budidaya yang lebih efisien, pengelolaan air yang tepat, serta adopsi teknologi yang sesuai untuk meningkatkan produktivitas sawah tanpa mengorbankan keberlanjutan lahan.
Peningkatan Dukungan untuk Petani
Memperkuat dukungan kepada petani menjadi elemen kunci. Dukungan ini dapat berupa akses yang lebih baik terhadap sarana produksi, pelatihan pemupukan dan pengendalian hama yang tepat, serta penyediaan permodalan yang terjangkau. Dengan petani yang lebih siap dan berdaya, pasokan beras domestik berpeluang lebih stabil.
Perbaikan Rantai Distribusi dan Logistik
Selain produksi, distribusi yang efisien membantu memastikan beras yang dihasilkan sampai ke pasar dengan biaya dan waktu yang optimal. Upaya memperbaiki infrastruktur penyimpanan, transportasi, dan pasar akan mengurangi kehilangan pascapanen serta meredam tekanan harga yang bisa memicu kebutuhan impor.
Peningkatan Cadangan Pangan dan Kebijakan Stabilisasi
Penguatan cadangan beras strategis dapat berfungsi sebagai bantalan terhadap guncangan pasokan. Kebijakan stablilisasi harga dan intervensi pasar yang dirancang dengan baik juga penting untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan aksesibilitas pangan bagi masyarakat luas.
Data dan Sistem Informasi yang Andal
Keputusan kebijakan yang tepat mensyaratkan data produksi, konsumsi, dan stok yang akurat. Pengembangan sistem informasi pertanian yang transparan dan terintegrasi memungkinkan perencanaan lebih baik sehingga pemerintah dan pelaku usaha dapat mengantisipasi kebutuhan tanpa bergantung pada impor sebagai solusi cepat.
Penguatan Kebijakan dan Pengaturan Perdagangan
Kebijakan perdagangan harus dirancang untuk menyeimbangkan kepentingan nasional dan kebutuhan pasar. Pengaturan impor yang responsif—misalnya sebagai langkah cadangan jangka pendek—perlu disertai strategi jangka panjang untuk menumbuhkan kemandirian produksi beras.
Sinergi Antarlembaga dan Antarpemangku Kepentingan
Upaya menghindari perangkap impor memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah, lembaga riset, sektor swasta, dan organisasi petani. Sinkronisasi program dan alokasi sumber daya dapat mempercepat perbaikan pada seluruh rantai nilai padi-beras.
Kesimpulan
Menghadapi 2026, strategi untuk menjauh dari ketergantungan impor beras harus komprehensif: menggabungkan peningkatan produksi dan produktivitas, dukungan kepada petani, perbaikan logistik, penguatan cadangan, kebijakan perdagangan yang bijak, serta data yang andal. Pendekatan terpadu dan berkelanjutan akan menempatkan sektor perberasan nasional pada posisi yang lebih kuat untuk menjamin ketersediaan dan stabilitas beras bagi masyarakat.
Foto: ANTARA News






