Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia kerap mengeluhkan bahwa riset yang dilakukan di berbagai lembaga tidak memberikan dampak yang signifikan dirasakan oleh publik. Permasalahan ini menunjukkan adanya hambatan-hambatan utama yang menghalangi hasil riset untuk benar-benar bermanfaat dan diaplikasikan di lapangan.
Untuk mengatasi hal tersebut, penting untuk menghilangkan tiga batu sandungan utama dalam proses riset agar hasilnya dapat menyentuh dan dirasakan oleh masyarakat luas. Dengan langkah ini, riset yang selama ini banyak dilakukan tidak hanya menjadi aktivitas akademik saja, tetapi juga berkontribusi pada solusi nyata berbagai persoalan di Indonesia.
Salah satu hambatan besar yang harus diatasi adalah komunikasi dan keterhubungan antara peneliti dan masyarakat pengguna manfaat riset. Seringkali, riset yang dihasilkan sulit dipahami oleh kalangan non-akademis sehingga implementasinya terhambat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih efektif agar hasil riset dapat diterjemahkan dan dipahami sesuai kebutuhan masyarakat.
Hambatan kedua berkaitan dengan sumber daya dan infrastruktur yang mendukung riset itu sendiri. Lembaga riset membutuhkan fasilitas dan dana yang memadai agar penelitian bisa dilakukan secara optimal dan menghasilkan data yang valid serta relevan. Penyediaan sumber daya yang berkelanjutan akan memperkuat kualitas riset dan memperbesar peluang hasilnya dimanfaatkan.
Terakhir, perlu adanya sinergi antara berbagai stakeholder, baik pemerintah, institusi riset, maupun pelaku industri dan masyarakat untuk menerapkan hasil riset. Kolaborasi ini membantu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik sehingga riset dapat diadaptasi sesuai konteks penggunaannya dan berdampak luas.
Dengan penghilangan tiga batu sandungan tersebut, diharapkan riset tidak hanya menjadi aktivitas terisolasi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah yang dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan.
Foto: ANTARA News






