Satpol PP Jaksel Akan Bongkar Lapangan Padel Tak Berizin di Cilandak Gubernur: Beberapa Program Pusat Sudah Berjalan di Rejang Lebong IRGC Konfirmasi Peluncuran Gelombang Pertama Serangan Roket ke Israel Indonesia dan Mimpi Kolektif Negara D-8: Menopang Harap dari Posisi Menunggu BI: Kapasitas Penyaluran Kredit Masih Longgar, Didorong untuk Percepat Pertumbuhan Pengamat Dorong Tetap Dibukanya Opsi Transit Saat Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik

Humaniora

Menteri PPPA Tekankan Pengawasan Anak Saat Bermain Game Online untuk Mencegah Kekerasan

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menekankan pentingnya pengawasan orang tua dan pihak terkait terhadap anak-anak yang bermain gim secara daring. Ia mengingatkan bahwa permainan digital yang tidak diawasi dapat berpotensi menghadirkan konten atau interaksi yang berdampak negatif bagi perkembangan dan perilaku anak.

Mengapa pengawasan diperlukan

Menurut Men PPPA, lingkungan permainan daring tidak selalu aman bagi anak-anak. Selain konten yang kadangkala mengandung unsur kekerasan, interaksi dengan pemain lain di platform terbuka bisa memperkenalkan anak pada perilaku yang tidak pantas atau berisiko. Oleh karena itu, pengawasan menjadi salah satu upaya penting dalam mencegah paparan terhadap hal-hal yang berpotensi merusak.

Bentuk pengawasan yang disarankan

Pengawasan tidak harus berarti melarang total. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua dan pengasuh antara lain menetapkan batasan waktu bermain, memilih permainan yang sesuai usia, serta mengaktifkan fitur kontrol orang tua yang disediakan oleh platform gim. Selain itu, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak tentang pengalaman bermain dan interaksi di dunia maya sangat penting untuk mengetahui jika ada masalah yang perlu ditangani.

Peran pendidikan dan literasi digital

Men PPPA juga menyoroti pentingnya menanamkan pemahaman tentang literasi digital sejak dini. Anak yang diberi bekal tentang cara aman berinteraksi di internet lebih mampu mengenali dan menghindari situasi berbahaya. Sekolah, lembaga pendidikan nonformal, dan komunitas dapat berperan dalam mengajarkan keterampilan ini sebagai bagian dari upaya perlindungan anak di era digital.

Kolaborasi multipihak

Isu keamanan anak di dunia maya tidak dapat ditangani sendirian oleh orang tua. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pengembang gim, penyedia platform, penegak kebijakan, dan organisasi masyarakat sipil untuk menciptakan lingkungan bermain yang lebih aman. Kolaborasi ini dapat meliputi penegakan kebijakan umur, desain fitur yang lebih ramah anak, serta mekanisme pelaporan dan respons terhadap konten atau perilaku berbahaya.

Menjaga keseimbangan antara hiburan dan keselamatan

Gim daring memiliki potensi sebagai sarana hiburan, pengembangan keterampilan, dan interaksi sosial positif bila digunakan dengan tepat. Namun, penting bagi orang tua untuk menjaga keseimbangan agar anak tetap memperoleh manfaat tanpa terpapar risiko. Pengaturan waktu, pemilihan konten yang sesuai, serta pengawasan aktif membantu memastikan pengalaman bermain yang sehat.

Pernyataan Men PPPA menegaskan bahwa upaya perlindungan anak perlu bersifat proaktif dan berkelanjutan. Dengan langkah-langkah pengawasan yang tepat serta kerja sama lintas sektoral, diharapkan anak-anak dapat menikmati teknologi dan hiburan digital dengan aman, jauh dari potensi kekerasan dan dampak negatif lainnya.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Polres Temanggung Ajak Murid TK Kunjungi Panti, Tekankan Pentingnya Empati Sejak Dini

27 Februari 2026 - 16:00 WIB

ANTARA News

Cahaya 1.008 Dipa dan Irama Damaru Mewarnai Malam di Candi Prambanan

27 Februari 2026 - 11:00 WIB

ANTARA News

Kemendikdasmen dan BPS Bersinergi Perkuat Ketepatan Data Pendidikan

27 Februari 2026 - 08:30 WIB

ANTARA News

Kemensos Perkuat Manajemen Guru Sekolah Rakyat Lewat Pelatihan

26 Februari 2026 - 19:30 WIB

ANTARA News

Human Initiative Buka Kembali Program “Qurban Early Bird” untuk Memperluas Jangkauan

26 Februari 2026 - 09:30 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora