Jakarta, 28 Januari 2026 — Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan optimisme mengenai prospek ekonomi Indonesia untuk dua tahun mendatang. Menurut Perry, kondisi ekonomi pada 2026 dan 2027 akan menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Keyakinan dari pucuk pimpinan BI
Pernyataan Perry Warjiyo ini mencerminkan pandangan pimpinan bank sentral tentang arah perekonomian nasional dalam jangka menengah. Sebagai otoritas moneter, pernyataan seperti ini kerap menjadi acuan bagi pelaku pasar, investor, dan pembuat kebijakan dalam menyusun strategi ekonomi mereka.
Implikasi bagi pelaku ekonomi
Keyakinan bahwa ekonomi akan membaik dalam beberapa tahun ke depan berpotensi mempengaruhi berbagai pihak. Pelaku usaha mungkin akan menimbang ulang keputusan investasi dan ekspansi, sementara konsumen dan pasar modal dapat merespons sinyal optimistis tersebut. Pernyataan dari Gubernur BI juga berfungsi sebagai pengingat bahwa pemantauan kebijakan dan kondisi makroekonomi terus berjalan.
Pentingnya koordinasi kebijakan
Dalam konteks pernyataan tersebut, koordinasi antara otoritas moneter, fiskal, dan pemangku kepentingan lain menjadi penting untuk mewujudkan perbaikan yang berkelanjutan. Bank sentral memiliki peran sentral dalam menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan, sementara kebijakan pemerintah menyentuh aspek anggaran dan reformasi struktural yang mendukung pertumbuhan.
Sinyal untuk investor dan masyarakat
Pernyataan optimistis dari Gubernur BI dapat dilihat sebagai sinyal positif oleh investor domestik maupun internasional. Bagi masyarakat luas, pernyataan tersebut memberikan harapan akan kondisi ekonomi yang lebih baik, namun sekaligus menegaskan perlunya kebijakan yang konsisten agar harapan tersebut terwujud dalam kenyataan.
Penutup
Perry Warjiyo menegaskan bahwa ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalami perbaikan pada 2026 dan 2027. Pernyataan ini menjadi perhatian bagi berbagai pihak yang mengikuti perkembangan ekonomi nasional, karena menunjukkan ekspektasi dari pimpinan Bank Indonesia terhadap prospek perekonomian ke depan.
Foto: ANTARA News






