Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menanggapi berbagai tudingan yang sempat diarahkan kepadanya, termasuk tuduhan ingin menjadi seorang diktator. Menurut Prabowo, anggapan tersebut bertentangan dengan nilai dan komitmen yang terpatri dalam sumpah prajurit.
Pernyataan itu disampaikan ketika Prabowo hadir dalam acara Panen Padi Nasional, yang menjadi latar bagi beberapa pesan politik dan sosial dari presiden. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa selama ini ia menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip-prinsip yang melekat pada profesionalisme militer dan kewajiban sebagai pejabat negara.
Penolakan terhadap stigma
Dalam menghadapi berbagai tuduhan, Prabowo memilih menepis anggapan yang menyudutkan tersebut dengan mengingatkan kembali arti dari sumpah prajurit yang pernah diucapkannya. Menurutnya, sumpah itu mengandung unsur pengabdian kepada negara, ketaatan pada konstitusi, serta perlindungan terhadap hak-hak warga negara — nilai-nilai yang berseberangan dengan konsep pemerintahan otoriter.
Ia menekankan bahwa label “diktator” tidak selaras dengan prinsip-prinsip yang dijunjung oleh anggota militer yang bertugas untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas negara. Pernyataan tersebut dimaksudkan untuk memperjelas sikap dan landasan etis yang menjadi rujukan dalam menjalankan peran kenegaraan.
Respon publik dan konteks acara
Acara Panen Padi Nasional, tempat Prabowo menyampaikan tanggapan tersebut, menjadi momen di mana presidenn membaur dengan masyarakat dan memantau program ketahanan pangan. Kehadiran pejabat di kegiatan semacam ini biasanya juga dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan kebijakan atau menjawab polemik yang berkembang di ruang publik.
Meskipun Prabowo dihadapkan pada berbagai tuduhan, ia memilih untuk menanggapi dengan menegaskan kembali komitmen profesionalnya sebagai mantan prajurit. Sikap seperti ini menunjukkan upaya meredam isu yang dinilai bertentangan dengan prinsip dasar militer dan pelayanan publik.
Fokus pada tugas negara
Dalam pernyataan-pernyataannya, Prabowo mengarahkan perhatian pada tugas dan tanggung jawab yang diembannya sebagai kepala negara. Ia menegaskan bahwa kritik dan tudingan yang dialamatkan kepadanya tidak mengubah fokus pada agenda nasional yang menjadi prioritas pemerintahan.
Dengan menegaskan bahwa tuduhan diktator bertentangan dengan sumpah prajurit, Prabowo berupaya membingkai kembali narasi publik tentang peran dan niatnya dalam memimpin pemerintahan. Pernyataan ini juga dimaksudkan untuk membangun kepercayaan bahwa tindakan dan kebijakan yang diambil didasarkan pada tanggung jawab konstitusional dan kepentingan masyarakat luas.
Publikasi dan liputan media mengenai pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana isu-isu politik diperdebatkan di ruang publik, terutama ketika berkaitan dengan karakter dan motif pemimpin negara. Perkembangan selanjutnya terkait polemik ini akan terus menjadi perhatian publik dan pengamat politik.
Foto: ANTARA News






