Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Akui Penampilan Belum Maksimal saat Hadapi Ganda Thailand BMKG: Tiga Kabupaten di Sulawesi Utara Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Menag: Tasawuf sebagai Kunci Menjaga Masa Depan Bumi FAKTA: Penonaktifan Kepesertaan BPJS Kesehatan PBI Dinilai Mengancam Nyawa Pasien Gagal Ginjal Danantara Gelar Groundbreaking Enam Proyek Hilirisasi Bernilai 7 Miliar Dolar AS Basarnas Lanjutkan Operasi Pencarian Korban Longsor di Pasirlangu Secara Terbatas

Humaniora

IDAI: Indonesia Masih Butuh Sekitar 400 Konsultan Jantung Anak

badge-check


					ANTARA News Perbesar

ANTARA News

IDAI: Kebutuhan Tambahan Konsultan Jantung Anak di Indonesia

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan bahwa Indonesia saat ini masih membutuhkan tambahan sekitar 400 konsultan jantung anak. Pernyataan ini menyoroti kekurangan tenaga spesialis yang berfokus pada penyakit jantung pada anak, yang menurut IDAI perlu ditangani untuk meningkatkan akses dan mutu layanan kesehatan pediatrik di dalam negeri.

Kekurangan tenaga spesialis

Piprim menjelaskan bahwa kebutuhan ini terjadi di tengah upaya meningkatkan pelayanan kesehatan anak. Kekurangan konsultan jantung anak dipandang sebagai salah satu hambatan dalam memastikan diagnosis dan penanganan kondisi kardiovaskular pada anak dapat dilakukan secara merata dan tepat waktu.

Implikasi terhadap layanan

Menurut pernyataan yang disampaikan, kurangnya jumlah konsultan spesialis berpotensi mempengaruhi akses keluarga terhadap pemeriksaan lanjutan, pengobatan khusus, dan tindakan bedah yang memerlukan keahlian subspesialis. IDAI menekankan pentingnya ketersediaan tenaga ahli untuk menunjang kualitas layanan kesehatan anak, termasuk penanganan kondisi jantung kongenital dan penyakit jantung lain pada usia anak.

Distribusi dan pemerataan

Piprim menyampaikan keprihatinan terkait pemerataan tenaga spesialis. Meskipun pernyataan tersebut tidak merinci lokasi tertentu, IDAI menggarisbawahi bahwa penambahan konsultan diperlukan untuk menjangkau berbagai wilayah sehingga anak di daerah yang lebih terpencil atau fasilitas layanan primer juga bisa mendapat rujukan dan penanganan yang sesuai.

Peningkatan kapasitas dan pelatihan

Dalam konteks ini, kebutuhan akan konsultan jantung anak juga menuntut upaya peningkatan kapasitas pendidikan dan pelatihan spesialis. IDAI mendorong agar ada perhatian terhadap program pendidikan kedokteran yang mampu menghasilkan tenaga subspesialis dengan kompetensi yang diperlukan untuk menangani kasus jantung anak yang kompleks.

Peran pemangku kepentingan

IDAI mengajak pemangku kepentingan terkait, termasuk institusi pendidikan, rumah sakit, dan pembuat kebijakan, untuk mempertimbangkan langkah-langkah yang dapat mempercepat peningkatan jumlah konsultan. Langkah-langkah tersebut dapat mencakup penguatan program pendidikan, dukungan fasilitas pelatihan, serta kebijakan yang memfasilitasi distribusi tenaga medis ke wilayah yang membutuhkan.

Kebutuhan berkelanjutan

Pernyataan Piprim menekankan bahwa kebutuhan ini bukan hanya bersifat kuantitatif tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan layanan berkualitas. Untuk memastikan anak-anak mendapatkan perawatan jantung yang tepat, diperlukan perencanaan jangka panjang yang memperhatikan peningkatan jumlah tenaga ahli sekaligus menjaga mutu pelayanan klinis.

Penutup

Dengan menyampaikan estimasi kebutuhan sekitar 400 konsultan jantung anak, IDAI menyoroti celah penting dalam sistem layanan kesehatan anak. Pernyataan ini menjadi dorongan bagi berbagai pihak untuk bersama-sama mengidentifikasi langkah nyata agar kebutuhan tenaga subspesialis tersebut dapat dipenuhi dan layanan kardiologi pediatrik di Indonesia semakin kuat.

Foto: ANTARA News

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menag: Tasawuf sebagai Kunci Menjaga Masa Depan Bumi

6 Februari 2026 - 20:30 WIB

ANTARA News

FAKTA: Penonaktifan Kepesertaan BPJS Kesehatan PBI Dinilai Mengancam Nyawa Pasien Gagal Ginjal

6 Februari 2026 - 20:00 WIB

ANTARA News

Kemenhaj Apresiasi Pelunasan Bipih di Sumbar Capai 107 Persen Meski Terkena Bencana

6 Februari 2026 - 15:30 WIB

ANTARA News

Baznas RI dan Angkasa Malaysia Sepakati Pemberdayaan Umat melalui Koperasi Masjid

6 Februari 2026 - 14:00 WIB

ANTARA News

Prof. Tjandra Yoga Aditama Jelaskan Asal Nama Penyakit Virus Nipah

6 Februari 2026 - 08:30 WIB

ANTARA News
Trending di Humaniora