Ponorogo, Jawa Timur — Satuan Lalu Lintas Polres Ponorogo menghadirkan pendekatan budaya dalam upaya menyosialisasikan tertib berlalu lintas kepada masyarakat. Kesenian reog dimanfaatkan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan keselamatan dan aturan lalu lintas secara lebih menarik dan mudah diterima publik.
Penerapan pendekatan ini menempatkan seni tradisional sebagai jembatan antara aparat kepolisian dan warga. Dengan menampilkan elemen-elemen reog yang kerap menjadi identitas daerah, polisi lalu lintas berusaha mengemas edukasi keselamatan berkendara dalam bentuk yang lebih mudah menarik perhatian, dibandingkan metode sosialisasi konvensional.
Penggunaan media kultural seperti reog diarahkan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang mungkin kurang responsif terhadap pesan-pesan formal. Seni pertunjukan memungkinkan pesan tertib berlalu lintas disampaikan secara visual dan audio, sehingga dapat meningkatkan daya ingat serta pemahaman masyarakat terkait aturan dan perilaku aman di jalan.
Selain fungsi informatif, gabungan antara penyuluhan dan hiburan ini diharapkan dapat memperkuat komunikasi dua arah antara petugas lalu lintas dan warga. Pertunjukan budaya memberi kesempatan bagi polisi untuk berinteraksi langsung, menjawab pertanyaan, dan mengedukasi tentang pentingnya kepatuhan terhadap rambu, kecepatan yang aman, serta penggunaan perlengkapan keselamatan seperti helm dan sabuk pengaman.
Pengerahan reog sebagai media sosialisasi juga menegaskan upaya untuk menempatkan penyuluhan keselamatan dalam konteks lokal yang familiar. Dengan mengaitkan pesan lalu lintas ke dalam bentuk kebudayaan daerah, penyampaian informasi menjadi lebih relevan dan beresonansi dengan nilai-nilai komunitas setempat.
Meskipun pendekatan ini bersifat kultural dan edukatif, tujuan utamanya tetap menjaga keselamatan pengguna jalan. Kombinasi antara seni dan edukasi menjadi alternatif strategi komunikasi yang dapat melengkapi program-program keselamatan lalu lintas lainnya yang selama ini dilakukan oleh pihak kepolisian.
Langkah ini menggambarkan upaya inovatif dari satuan lalu lintas setempat dalam mencari cara baru untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan warga di jalan raya. Dengan memanfaatkan identitas budaya, kampanye keselamatan berlalu lintas diharapkan menjadi lebih mudah diingat dan lebih efektif dalam jangka panjang.

Inisiatif ini menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan non-konvensional dapat diterapkan dalam program keselamatan publik, dengan tujuan utama meminimalkan pelanggaran lalu lintas serta menurunkan risiko kecelakaan melalui peningkatan kesadaran masyarakat.
Foto: ANTARA News






